ilustrasi/medcom.id
ilustrasi/medcom.id

Golkar Disebut Butuh Capres dengan Rekam Jejak Mumpuni

Anggi Tondi Martaon • 31 Desember 2021 14:11
Jakarta: Partai Golkar disebut membutuhkan calon presiden (capres) dengan rekam jejak mumpuni. Hal tersebut dibutuhkan untuk memenangkan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. 
 
Eks Menteri Koordinator Perekonomian, Ginandjar Kartasasmita, mengatakan kebutuhan itu lebih mendesak ketimbang capres cerdas dan visioner.
 
"Tapi bagaimana kita bisa tahu seseorang memiliki ciri-ciri seperti itu? Yang kita dengar dari kaum politisi semuanya yang baik-baik saja, enak didengar, normatif. Semua serba optik," kata Ginandjar saat dikonfirmasi, Jumat, 31 Desember 2021.

Menurut dia, capres dengan pengalaman memimpin lebih dibutuhkan. Ginandjar menyebut salah satu yang paling mencolok ialah Airlangga Hartarto.
 
Dia mengatakan Airlangga bukan sekadar politikus, tapi teknokrat yang mumpuni. Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) itu disebut sukses menunaikan tugasnya.
 
"Prestasi pemerintah sekarang yang sukses menangani pandemi dan sekaligus memulihkan ekonomi adalah prestasi Airlangga yang ditunjuk Presiden Joko Widodo untuk memimpin kedua tugas yang berkait satu sama lain itu," kata Ginandjar.
 
Menurut dia, Airlangga memiliki potensi memimpin Indonesia. Ginandjar meminta semua pihak objektif menilai Airlangga berdasarkan kinerjanya.
 
Baca: Tak Terpengaruh Hasil Survei, Golkar Tetap Berupaya Jadikan Airlangga Capres
 
Di sisi lain Ginandjar melihat munculnya nama Airlangga sebagai calon dari Golkar muncul dari proses demokratis. Sebab, Golkar dikenal sebagai partai kader yang merekrut pihak berprestasi dan berdedikasi.
 
"Saya rasa karakter itu saja yang harus tetap dipertahankan, soal elektoral bisa turun naik, itu biasa. Yang penting identitas itu dijaga dan tetap setia pada cita-cita yang melahirkan Golkar," kata Ginandjar. 
 
Dia melihat langkah Golkar mengajukan capres sendiri sudah tepat. Mengingat Golkar merupakan salah satu partai tertua dan memiliki pendukung yang solid. Ginandjar menyebut ada 14-15 persen pendukung setia Golkar di pemilihan umum (pemilu) sebelumnya.
 
"Untuk itu Golkar harus punya capres, selain memang dirasa sudah saatnya Golkar memimpin kembali pemerintahan untuk memandu pembangunan yang ingin diakselerasi," kata Ginandjar.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(NUR)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan