Pengamat militer Susaningtyas Nefo Handayani Kertapati dalam program Crosscheck, Minggu, 5 September 2021. Medcom.id
Pengamat militer Susaningtyas Nefo Handayani Kertapati dalam program Crosscheck, Minggu, 5 September 2021. Medcom.id

Pengamat Militer Susaningtyas Luruskan Pernyataan Islam, Pendidikan, dan Terorisme

Nasional Taliban afghanistan taliban afghanistan radikalisme Crosscheck
Fachri Audhia Hafiez • 08 September 2021 20:27
Jakarta: Pengamat militer Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati meluruskan pernyataan terkait Islam, pendidikan, dan terorisme. Pernyataan yang disampaikan dalam program Crosscheck #FromHome by Medcom.id bertajuk 'Taliban Bermuka Dua ke Indonesia?' baru-baru ini menuai polemik.
 
"Sebagai umat Islam tentu saya tidak mungkin mengatakan Islam sebagai embrio terorisme," ujar Susan dalam keterangan tertulis, Rabu, 8 September 2021.
 
Sebagai muslim, Susan menghormati ajaran-ajaran Islam. Namun, dia tak memungkiri ada potensi embrio radikalisme yang berkembang diawali dari dunia pendidikan di Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menegaskan tidak semua lembaga pendidikan berbasis muslim itu dikatakan sebagai embrio radikalisme hingga cikal bakal kemunculan Taliban. Masih ada lembaga pendidikan sesuai aturan.
 
"Soal pendidikan itu, sudah ada banyak lembaga yang sudah meriset hal ini," ujar Susan.
 
Baca: Kontak Jemaah Islamiyah dengan Taliban Tidak Mengejutkan
 
Pada program Crosscheck, Susan juga mengatakan embrio radikalisme muncul ketika sekolah tak lagi menghormati dasar negara. Misalnya, ada kecenderungan berkomunikasi dengan bahasa Arab.
 
Susan meluruskan hal itu bukan berarti tak menghormati bahasa Arab. Dia menyebut ada perbedaan konteks bahasa Arab sebagai alat komunikasi resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan penggunaannya.
 
"Perbedaan penggunaan sebagai bahasa sehari-hari dalam pergaulan suatu bangsa yang sudah memiliki bahasa nasional, seperti halnya bahasa kita bahasa Indonesia. Dalam hal ini mohon maaf bila ada yang tidak sependapat dengan saya," ucap dia.
 
Susan menyayangkan pemberitaan terkait seluruh pernyataannya itu tak dicerna utuh oleh sejumlah media. Hal ini memunculkan polemik di ruang publik.
 
Dia berkomitmen menjunjung tinggi adat budaya Indonesia. Pernyataannya dalam wawancara itu diharapkan dipahami sebagai kekhawatiran dan kewaspadaan terhadap kemunculan bibit radikalisme.
 
Dia mengaku mengkhawatirkan glorifikasi atas kemenangan Taliban di Afghanistan. Hal itu dikhawatirkan membuat sel-sel tidur terorisme kembali berkembang.
 
"Sehingga tentu apa yang saya sampaikan tidak lain tidak bukan karena saya ingin mengajak serta bangsa ini memiliki patriotisme dalam bela negara," ucap dia.
 
Hai Sobat Medcom, terima kasih sudah menjadikan Medcom.id sebagai referensi terbaikmu. Kami ingin lebih mengenali kebutuhanmu. Bantu kami mengisi angket ini yuk  https://tinyurl.com/MedcomSurvey2021 dan dapatkan saldo Go-Pay/Ovo @Rp50 ribu untuk 20 pemberi masukan paling berkesan. Salam hangat.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif