Juru bicara presiden Fadjroel Rachman (tengah). Foto: Damar Iradat/Medcom.id
Juru bicara presiden Fadjroel Rachman (tengah). Foto: Damar Iradat/Medcom.id

Istana Bantah Temuan KontraS Soal Masalah Kebebasan Berekspresi

Nasional 100 Hari Jokowi-Maruf
Damar Iradat • 29 Januari 2020 16:27
Jakarta: Istana Kepresidenan membantah kebebasan berekspresi menjadi salah satu masalah besar dalam 100 hari kepemimpinan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. Dalam 100 hari Jokowi-Ma'ruf, tidak ada yang ditangkap karena mengkritik pemerintah.
 
"Tidak benar. Buktinya tidak ada seorang pun yang ditangkap karena mengkritik pemerintah," kata juru bicara presiden Fadjroel Rachman di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 29 Januari 2020.
 
Pernyataan Fadjroel berbanding terbalik dengan data yang dihimpun Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Catatan KontraS, mahasiswa paling banyak menjadi korban kebebasan berekspresi selama 100 hari Jokowi-Ma'ruf.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kepala Divisi Advokasi Internasiobal KontraS Fatia Maulidiyanti mengatakan terdapat 49 kasus kebebasan berekspresi dan mengorbankan 89 orang. Menurut Fatia, pembatasan kebebasan berekspresi yang terjadi dengan cara memunculkan sejumlah isu guna menaikkan popularitas pemerintah. Misalnya, isu komunisme, anarko, Papua, dan radikalisme.
 
"Itu menjadi isu-isu yang kerap kali digoreng pemerintah untuk menaikkan popularitas, namun juga untuk menyajikan sebuah konsep nasionalisme sempit," ujar dia.
 
Menurut dia, isu itu terkesan jadi pelabelan kepada masyarakat yang tidak sejalan dengan pemerintah. "Di situ menjelaskan memang narasi oleh pemerintah ialah nasionalisme sempit, kita anti Pancasila dan anti NKRI, misalnya," ujar dia.
 
Menurut Fatia, situasi ini bukan hanya terjadi pada 100 hari pemerintahan Jokowi-Ma'ruf. Kondisi pembatasan ekspresi juga terjadi di akhir pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.
 
"Di akhir-akhir Jokowi fase pertama, itu sudah mulai terancam dengan adanya banyak penangkapan setelah aksi reformasi dikorupsi," kata dia.

 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif