Anggota Komisi I DPR, Muhammad Farhan. Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto
Anggota Komisi I DPR, Muhammad Farhan. Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto

Demi Harga Diri Indonesia, Jokowi Diminta Tidak Hubungi Macron

Nasional mui prancis Kartun Nabi Muhammad Emmanuel Macron Crosscheck
Kautsar Widya Prabowo • 08 November 2020 15:08
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) dimintai tidak menelepon Presiden Perancis Emmanuel Macron terkait pernyataannya yang dianggap menghina umat Islam. Persoalan ini menyangkut kedaulatan dan harga diri Indonesia.  
 
"Tidak boleh nyuruh dan dia minta maaf. Sama saja (Presiden Amerika) Donald Trump telepon Pak Jokowi bilang maaf Freeport kita ambil," ujar anggota Komisi I Muhammad Farhan dalam diskusi virtual Crosscheck Medcom.id, bertajuk MUI Boikot Prancis, Siapa Menangis, Minggu, 8 November 2020.
 
Dia meminta Presiden bersikap bijak menyikapi polemik ini. Masyarakat diminta membiarkan Presiden menjaga nama baik Indonesia. "Kita (masyarakat) yang bergerilya," tuturnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Politikus Partai NasDem itu menyebut pemerintah dan DPR telah meminta penjelasan dari Duta Besar Prancis untuk Indonesia terkait polemik ini. Duta Besar Prancis membantah Macron melontarkan pernyataan penghinaan kepada umat Islam.
 
"Kita akan lihat bagaimana perkembanganya, bagaimana Menteri Luar Negeri (Retno Marsudil) menjadi otak dibalik power play ini," jelasnya.
 
Farhan juga menyoroti langkah Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengajak masyarakat memboikot produk Prancis. Dia menilai langkah itu sebagai upaya geriliya masyarakat.
 
"Sikap keras dari MUI ini bisa digunakan diplomat Indonesia, sebagai bentuk diplomasi power play atau kuat-kuatan," terangnya.
 
Baca: Hindari Tragedi Kemanusiaan, Jokowi Harus Menelepon Macron
 
Sebelumnya, pengamat hukum internasional Hikmahanto Juwana menyebut Presiden perlu berbicara langsung dengan Macron. Kepala Negara diminta membujuk Macron untuk minta maaf.
 
"Bapak Presiden angkat telpon untuk berbicara hati ke hati dan menyampaikan Presiden Macron ini penting sekali pernyataan minta maaf," kata Hikmahanto dalam program Newsmaker Medcom.id, Sabtu, 7 November 2020.
 
Menurut dia, Macron harus mengakui kesalahannya dalam merespons pembunuhan guru imbas menunjukkan karikatur Nabi Muhammad SAW. Jika tidak, tragedi kemanusiaan dikhawatirkan bakal terjadi.
 
Hikmahanto menilai pernyataan Macron yang menilai Islam tengah mengalami krisis membuat amarah umat muslim tersulut. Hal ini dapat mengancam keselamatan warga Prancis di negara lain, khususnya negara berpenduduk muslim.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif