Ilustrasi/MI/Amiruddin Abdullah
Ilustrasi/MI/Amiruddin Abdullah

Parpol Dinilai Masih Punya Banyak Kelemahan

Nasional partai politik
Anggi Tondi Martaon • 18 Februari 2020 18:59
Jakarta: Partai politik dinilai memiliki banyak kelemahan. Hal itu membuat tujuan pembentukan parpol banyak yang tidak tercapai.
 
Praktisi pemilihan umum Ramlan Surbakti menyampaikan kelemahan utama parpol yakni sistem pengelolaan. Parpol cenderung tidak dikelola secara demokratis.
 
"Parpol tidak dikelola secara demokrasi, melainkan oligarki malahan personalistik," kata Ramlan dalam diskusi Redesain UU Pemilu, serta Kodifikasi UU Pemilu, dan Pilkada di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 18 Februari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ramlan menilai masalah finansial juga menjadi tugas besar parpol untuk diselesaikan. Menurut dia, parpol masih banyak dibiayai segelintir elite.
 
"Padahal UU mengatakan biaya parpol berasal dari iuran anggota. Mana ada anggota bayar iuran, wong insentif anggota saja tidak ada," ungkap dia.
 
Parpol Dinilai Masih Punya Banyak Kelemahan
Praktisi Pemilihan Umum Ramlan Surbakti (paling kiri). MI/Mohamad Irfan
 
Parpol juga dianggap lemah dalam perwujudan idelogi. Kebanyakan ideologi yang disepakati kelompok politik hanya jadi bahan tontonan, bukan tuntunan kader.
 
Selain itu, masyarakat banyak yang belum mengetahui kebijakan parpol. Pemilih lebih mengetahui tokoh parpol daripada kebijakan yang dibuat.
 
Ramlan membandingkan parpol di Indonesia dengan Amerika. Kebijakan kelompok politik di Negeri Paman Sam lebih dikenal dibandingkan elite.
 
"Kita tahu (Partai) Demokrat itu mesti tinggi, karena pajak yang tinggi itu bisa disalurkan untuk pemerataan. Sementara itu, (Partai) Republik (memiliki) pajak sangat rendah karena menjadi insentif bagi pengusaha untuk berinvestasi. Jadi ideologinya sangat jelas sekali. Tapi di Indonesia?" ujar dia.
 
Ramlan menilai tingkat identifikasi masyarakat terhadap parpol juga menurun. Menurut dia, ini bisa menjadi bumerang bagi sistem demokrasi di Indonesia.
 
"Makin rendah jumlah pemilih yang mengidentifikasi dirinya dengan partai. Ini bahaya sebenarnya," ujar dia.

 

(AZF)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif