Mahasiswa yang tergabung dalam Tim Peduli AIDS melakukan aksi damai dengan melepas burung merpati di atas simbol pita merah di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. Foto: MI/Immanuel Antonius.
Mahasiswa yang tergabung dalam Tim Peduli AIDS melakukan aksi damai dengan melepas burung merpati di atas simbol pita merah di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. Foto: MI/Immanuel Antonius.

Pengidap AIDS Terancam Krisis Obat

Nasional hiv/aids
Muhammad Syahrul Ramadhan • 11 Januari 2019 09:32
Jakarta: Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC) Aditya Wardhana mengkhawatirkan kegagalan pengadaan obat antiretroviral (ARV) fixed-dose combination (FDC) tenofovir, lamivudine, dan efavirenz (TLE). Sebanyak 43 ribu orang dengan HIV/AIDS (ODHA) terancam krisis obat.

“Kemenkes (Kementerian Ksehetan) melakukan emergency procurement (pengadaan darurat) dengan menggunakan dana Global Funds dengan membeli langsung dari India. Sebanyak 220 ribu botol sudah sampai di Jakarta dan hanya cukup sampai Maret 2019,” kata Aditya di Jakarta, Kamis, 10 Januari 2019.

Aditya mempertanyakan apakah jika di tahun ini pengadaan obat dengan menggunakan APBN masih gagal, pemerintah akan terus mengandalkan pengadaan darurat. Sementara itu, pengadaan darurat belum tentu menyelesaikan masalah. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Menurut dia, Januari hingga Maret 2019 menjadi fase krusial dalam pemanfaatan APBN untuk memberi obat ARV. Hal ini penting mengingat ARV FDC TLE adalah energi baru bagi ODHA karena memberikan efek penyelamat hidup dan efek pencegahan sehingga bisa mengeliminasi stigma negatif di masyarakat. Baca: Kejagung Usut Dugaan Korupsi Obat HIV/AIDS

Sementara itu, Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Penyediaan Alat Kesehatan Kemenkes Engko Magdalene menegaskan stok obat ARV tak perlu dikhawatirkan. Pasalnya, stok selama 10 bulan ke depan masih aman.

“Kami sudah berhitung fixed-dose combination empat bulan masih cukup dengan jumlah pasien yang ada dan kami sudah hitung kalau ada estimasi peningkatan pasien yang treament yang setiap bulannya naik 2 sampai 3 persen kira kira empat bulan masih bisa bertahan dengan FDC. Enam bulan bertahan dengan lepasan,” kata Engko di Kemenkes. 

Dia menjelaskan agar ketersediaan tetap ada, data ARV akan dimasukan ke dalam e-kalatog. “Sementara tiga bulan pertama ini kami akan usahakan agar pengadaan 2019 sudah selesai” jelas dia.


(OGI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi