Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet). Medcom.id/Anggi Tondi Martaon
Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet). Medcom.id/Anggi Tondi Martaon

Ketua MPR: Moderasi Beragama Bukan Mengabaikan Ajaran Agama

Antara • 11 April 2022 07:03
Jakarta: Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) menekankan moderasi beragama telah menjadi jawaban atas maraknya intoleransi di seluruh dunia. Namun, moderasi beragama bukan berarti mengabaikan ajaran nilai agama.
 
“Moderasi beragama bukanlah mengabaikan ajaran nilai agama, karena sesungguhnya nilai agama akan selalu melekat dan mewarnai kehidupan keseharian dan kebangsaan,” kata Bamsoet dalam keterangan tertulis, Jakarta, Minggu, 11 April 2022.
 
Bamsoet mengatakan agama mengajarkan masyarakat untuk menjaga hubungan silaturahmi yang harmonis dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan. “Pada dasarnya, agama menjauhkan kita dari perbuatan dosa dan tercela, karenanya jangan sampai karena mengatasnamakan agama, justru membuat banyak dosa dan perbuatan tercela,” ucap dia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di Indonesia, relasi antara agama dan negara telah diatur sedemikian khas. Indonesia bukan negara agama yang berdasar pada satu agama tertentu, tetapi bukan juga negara sekuler.
 
“Indonesia adalah negara yang berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, sesuai sila pertama Pancasila," ujar Bamsoet.
 
Baca: Moderasi Beragama Penting Diwujudkan di Lingkungan Kampus
 
Mantan Ketua Komisi III itu menjelaskan sosialisasi Empat Pilar MPR bersamaan Dharmasanti Nasional semakin melengkapi rangkaian Perayaan Hari Suci Nyepi. Dharmasanti adalah acara simakrama atau silaturahmi yang bertujuan membangun kerukunan, kedamaian, dan harmoni antarumat dengan dilandasi sikap moderasi dalam beragama, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai dan martabat kemanusiaan.
 
"Martabat kemanusiaan seseorang tercermin dari caranya menghormati orang lain, dan seberapa kuat komitmennya dalam menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan antarsesama manusia,” ucap dia.
 
Dalam konsepsi kehidupan berbangsa dan bernegara, dia melanjutkan, nilai filosofis dari ajaran Tat Twam Asi yang merupakan ajaran moral bernapaskan agama Hindu, selaras dengan rumusan sila kedua Pancasila, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab.
 
Wakil Ketua Umum Partai Golkar itu menjelaskan membangun moderasi beragama merupakan keniscayaan dantantangan. Harus dilakukan dengan sinergi dan kolaborasi dari segenap elemen bangsa, utamanya masing-masing umat beragama, untuk membangun moderasi beragama.
 
"Untuk mewujudkannya, diperlukan komitmen kebangsaan yang dibangun dari landasan ideologi, landasan konstitusional, dan wawasan kebangsaan yang berorientasi pada semangat persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Bamsoet.
 
Dia menambahkan bagi Indonesia, membangun moderasi beragama sangat penting mengingat Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Terdapat 273 juta penduduk yang menganut enam agama berbeda yang diakui negara, serta puluhan aliran kepercayaan. Dengan kemajemukan tersebut, moderasi beragama akan menjadi faktor kunci terwujudnya harmoni dan kerukunan umat beragama.
 
"Kerukunan umat beragama yang menjadi landasan terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa, bukanlah sesuatu yang bersifat statis, tetapi berkembang dinamis,” tutur Bamsoet.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif