Wakil Presiden Maruf Amin. Dok Setwapres
Wakil Presiden Maruf Amin. Dok Setwapres

Wapres Sayangkan Masih Banyak Pihak Identikkan Islam dengan Ekstremisme

Emir Chairullah • 26 Januari 2022 00:08
Jakarta: Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin menyayangkan masih banyak pihak yang mengidentikkan Islam dengan ekstremisme dan kekerasan. Bahkan, suara-suara negatif itu terdengar nyaring di dunia internasional.
 
"Citra Islam yang mulia telah dirampas oleh segelintir orang yang mengatasnamakan Islam untuk membenarkan kekerasan yang dilakukannya," ujar Ma'ruf saat menghadiri acara Pembukaan Seminar Internasional "Membangun Kerja Sama Internasional untuk Menguatkan Komitmen dan Praktik Islam Rahmatan Lil 'Alamin di Dunia" secara virtual di Jakarta, Selasa, 25 Januari 2022.
 
Menurut dia, suara negatif itu mendapatkan sorotan dan perhatian dunia internasional. Bahkan, fenomena ini diperparah dengan sebaran berita di berbagai platform media.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Akibatnya, terjadi islamophobia yang saat ini marak di berbagai belahan dunia. Tak jarang, umat Islam mendapatkan perlakuan diskriminatif dan rasialis akibat islamophobia," jelas dia.
 
Baca: Menag: Gejala Ekstrimitas Bisa Terjadi di Mana Saja
 
Ma’ruf mengajak segenap umat Islam Indonesia untuk bersama-sama memikul pekerjaan besar agar terus menjadi cerminan Islam yang moderat, bersahabat, dan toleran. "Tidak hanya itu, kita juga harus menjadi umat Islam yang maju dan berdaya," ujar dia.

Penganut Islam Moderat

Ma'ruf mengatakan masyarakat muslim Indonesia dikenal kalangan ulama dunia sebagai penganut agama Islam yang moderat, bersahabat, dan toleran. Indonesia telah diakui keberhasilannya dalam mengelola perbedaan di tengah kehidupan masyarakat yang memiliki beragam latar belakang.
 
Pengakuan tersebut terbukti dengan datangnya utusan Majelis Hukama Al-Muslimin ke Indonesia untuk belajar tentang Islam yang toleran. Majelis Hukama Al-Muslimin berpusat di Abu Dhabi.
 
"Mereka datang ke Indonesia bukan untuk memberikan ajaran atau tuntunan tentang bagaimana Islam yang rahmatan lil ‘alamin itu, tetapi justru mereka datang untuk belajar tentang Islam yang toleran, yang sudah diakui di Indonesia," ungkap Ma'ruf.
 
Ma’ruf mengatakan Majelis Hukama sempat menyebutkan sekarang bukan saatnya lagi kitab-kitab Bahasa Arab yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sebaliknya, buku-buku Indonesia yang memuat tentang toleransi dan kerukunan diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab.
 
"Saya bersyukur karena Indonesia telah diakui keberhasilannya dalam mengelola perbedaan. Indonesia telah diminta berbagi pengalaman tentang toleransi antarumat beragama yang menjadi faktor terciptanya perdamaian dan stabilitas dalam kehidupan masyarakat yang sangat beragam latar belakangnya," papar dia.

Toleransi dan Kerukunan di Indonesia

Ma’ruf memaparkan toleransi dan kerukunan di Indonesia tidak terlepas dari nilai yang tertanam dalam dasar negara Pancasila. "Pancasila menyatukan kemajemukan bangsa Indonesia dengan tetap menghormati nilai-nilai dan praktik beragama yang dianut masyarakat Indonesia," ujar dia.
 
Selain itu, kata Ma’ruf, umat Islam Indonesia mengembangkan konsep dasar ukhuwah (persaudaraan) dalam tiga aspek. Yaitu, ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama muslim, ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan satu bangsa, dan ukhuwah insaniyah atau persaudaraan sesama manusia.
 
Di Indonesia, lanjut dia, dibentuk Majelis Ulama Indonesia sebagai wadah bagi ulama yang berbeda mazhab dan pandangan untuk mengelola perbedaan di antara penganut Islam. "Sementara untuk mengelola perbedaan di antara agama-agama yang berbeda, dibentuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di tingkat provinsi sampai di kabupaten/kota untuk membantu menyelesaikan masalah," ujar dia.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif