ASEAN Bisa Belajar dari Teluk Aden
Ilustrasi. Foto: Istimewa
Jakarta: Cara Uni Eropa menggelar operasi keamanan maritim di Teluk Aden bisa dicontoh negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). Sebelumnya, Teluk Aden merupakan tempat utama pembajakan yang dilakukan bajak laut Somalia.

"Keberhasilan Uni Eropa menggelar operasi keamanan maritim di Teluk Aden berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB dapat menjadi benchmarking beberapa negara anggota ASEAN. Terutama saat menggelar operasi keamanan maritim di Selat Malaka dan Laut Sulu," kata Komandan Sekolah Staf Komando TNI Angkatan Laut (Seskoal) Laksamana Muda Amarulla Octavian melalui keterangan tertulis, Minggu, 2 Desember 2018.

Keamanan di Selat Malaka dan Laut Sulu menjadi sorotan karena banyak terjadi perompakan. Sejumlah negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina bahkan terus meningkatkan kerja sama untuk bisa membebaskan dua kawasan ini dari para perompak.


Baca: 3 Negara Bahas Keamanan Maritim Selat Malaka di Yogyakarta

ASEAN, lanjut Octavian, juga bisa menggandeng Uni Eropa untuk belajar bagaimana menciptakan keamanan maritim. Indonesia bisa menggagas kerja sama ini.

“Baik Uni Eropa maupun Indonesia berkepentingan menjaga stabilitas keamanan dari ancaman-ancaman keamanan maritim," kata Octavian saat memaparkan makalah berjudul “Indonesia-EU Maritime Security Cooperation”.

Makalah membahas tentang karakteristik ancaman-ancaman maritim dan kecenderungannya di masa depan. Makalah ini disampaikan saat dialog terbuka bertema “Advancing European Union-Indonesia Security and Defence Partnership", di kantor Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jakarta, akhir November lalu.

Menurut dia, Indonesia bisa bekerja sama dengan Uni Eropa dalam kerangka sustainable development goals (SDG) dan program aksi ASEAN Political-Security Community (APSC).

Baca: Indonesia Kerja Sama Pembangunan dengan Filipina di Laut Sulu

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Vincent Guérend, secara resmi memberikan sambutan dalam dialog ini. Ia berharap ada peningkatan kapasitas dan kualitas dalam kerja sama keamanan dan pertahanan antara Indonesia dengan negara anggota Uni Eropa. "Terutama untuk persoalan keamanan maritim," katanya.

Perkembangan terkini hukum humaniter untuk konflik di laut juga menjadi topik bahasan dalam dialog itu. Kesempatan berdialog juga dimanfaatkan untuk menyampaikan beberapa hasil penelitian Seskoal dalam konteks implementasi Poros Maritim Dunia.

Dialog dihadiri para akademisi dari beberapa perguruan tinggi. Hadir pula pemerhati dari pusat-pusat kajian serta Atase Pertahanan dari beberapa kedutaan dan organisasi internasional. Tampak pula pejabat dari European External Action Service (EEAS) dan International Committee of the Red Cross (ICRC).

Bersama Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang-beom, Octavian menjadi pembicara ketiga pada panel pertama.

Dialog dalam rangka kerja sama Uni Eropa dan ASEAN di kantor CSIS, Jakarta, 30 November 2018. Foto: Seskoal




(UWA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id