Presiden Joko Widodo/Biro Pers Sekretariat Presiden.
Presiden Joko Widodo/Biro Pers Sekretariat Presiden.

Jokowi Janjikan Percepatan Pembangunan Industri Hilir Batu Bara

Nasional Jokowi batu bara investasi Investasi Asing Industri Hijau
Andhika Prasetyo • 13 Mei 2022 06:24
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjamu Chairman Air Products Seifi Ghasemi guna membahas kelanjutan kerja sama antara kedua belah pihak pada hari ketiga kunjungan kerja di Amerika Serikat (AS), Kamis, 12 Mei 2022. Perusahaan asal Negeri Paman Sam yang bergerak di sektor energi itu adalah pihak yang memiliki andil besar dalam pengembangan industri hilir batu bara di Muara Enim, Sumatra Selatan, awal tahun ini.
 
Mereka menggelontorkan dana sebesar USD15 miliar untuk investasi di Indonesia. Jokowi mengapresiasi komitmen dan kesungguhan Air Products dan memastikan pemerintah Indonesia beserta seluruh pemangku kepentingan bergerak cepat menyelesaikan proyek yang sedang berjalan.
 
"Saya menyambut baik penandatanganan MoU di Dubai, November 2021. Sebagai implementasi investasi, pada 24 Januari 2022, saya telah lakukan groundbreaking industri hilirisasi coal to DME di Bukit Asam. Saya berharap semua rencana investasi tersebut dapat segera ditindaklanjuti dengan cepat," kata Jokowi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam keterangan pers selepas pertemuan, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menjelaskan sebanyak USD7 miliar dari total investasi USD15 miliar itu sudah disalurkan untuk sejumlah proyek yakni pengembangan pabrik pengolahan batu bara menjadi dimetil eter (DME) di Muara Enim, Sumatra Selatan, serta dua pabrik metanol di Balongan, Jawa Barat, dan Cepu, Jawa Tengah. Dana investasi yang tersisa, kata Bahlil, akan digunakan membangun proyek energi hidrogen.
 
"Kita akan bikin hidrogen yang nanti dibangun dengan memanfaakan bendungan-bendungan yang dimiliki negara yang selama ini jadi aset negara dan dikelola Kementerian PU-Pera," kata mantan ketua umum Hipmi itu.
 
Baca: Jokowi akan Hadiri Jamuan Presiden dan Kongres AS
 
Dia mengakui pemerintah saat ini fokus pada pengembangan industri hilir batu bara untuk mengurangi beban impor LPG yang begitu besar setiap tahun, yakni menyentuh tujuh juta ton atau senilai Rp80 triliun.
 
Dengan adanya proyek pengolahan batu bara menjadi DME yang merupakan komoditas substitusi LPG, pemerintah yakin nilai impor bisa ditekan secara signifikan.
 
"Kami berpendapat hilirisasi harus dibangun dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri terutama menyangkut DME. Kita masih impor LPG kurang lebih enam sampai tujuh ton per tahun. Ini perlahan harus kita selesaikan agar kewajiban kita memenuhi kebutuhan dalam negeri bisa kita wujudkan melalui hilirisasi batubara lokal ini," tegas Bahlil.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif