Ikhtiar dan Mimpi Gatot Nurmantyo
Dewan Pembina Utama Tim Sepak Bola PS TNI Rakyat (Tira) Gatot Nurmantyo (keempat kanan) di Stadion Sultan Agung, Bantul, DI Yogyakarta, Minggu (18/3/2018). Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko/ama/18.
Jakarta: Lewat kopiah putihnya, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menjadi perhatian publik saat aksi 2 Desember 2016 yang dikenal publik dengan sebutan Aksi 212. Saat itu dia masih menjabat sebagai Panglima TNI. Kemunculan Gatot dengan kopiah putih membuat ia berbeda dengan rombongan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang kompak mengenakan peci hitam.
 
Nama Gatot tak berhenti saat aksi pengamanan aksi itu. Beberapa manuver Gatot nyatanya disukai publik. Salah satunya saat menginstruksikan TNI menggelar nonton bareng film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI (1984). Dia memerintahkan anak buahnya menonton film kontroversial itu bersama masyarakat.
 
Pun, setelah Gatot pensiun menjadi prajurit TNI. Gatot menyatakan siap mengikuti Pemilihan Presiden 2019. Namun, hingga kini belum ada partai politik yang terbuka menyatakan dukungan untuk Gatot.
 
Reporter Medcom.id K.Yudha Wirakusuma, Whisnu Mardiansyah, M. Rodhi Aulia, dan Damang Nauli Lubis berkesempatan mewawancarai Gatot terkait upaya menjaring dukungan di Pilpres 2019.
 
Berikut petikan wawancara  dengan Gatot di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, pekan lalu.
 
Apa kesibukan Anda setelah pensiun di TNI? 
 
Saya bersama rekan-rekan membuat satu peternakan ayam. Tadinya saya inginnya berusaha membuat ayam goreng. Hanya, saya kan harus ada toleransi. Saya (perwakilan) jenderal, sedangkan ada pengusaha ayam goreng yang kolonel (Harland David ‘Colonel’ Sanders, pendiri Kentucky Fried Chicken, red.). Nah saya enggak mau saingan dengan KFC. Kan ‘kolonel’ tuh, saya enggak mau. Jadinya saya (dirikan usaha) ayam petelur saja.
 
Kemudian apa mimpi besar Anda?
 
Mimpi saya, peternak-peternak ayam ini, khususnya ayam petelur, ada di mana-mana. Karena selalu kita kurang telur. Kemudian pakan telur pun bisa diproduksi sendiri, bahkan bibit ayam diadakan sendiri.
 
Mimpi besar Anda ke depan soal negara Ini? 
 
Pertumbuhan ekonominya tinggi. Kemudian pendapatan per kapita juga tinggi. Jadi negara pusat ekonomi dunia. Dan semuanya kita punya peluang. Sehingga kita bisa mewujudkan keadilan bagi rakyat Indonesia. Kesenjangan sosialnya kecil. Kemudian tidak ada lagi kemiskinan. Aman, tentram, dan damai. Mimpi harus seperti itu.

Baca: Gatot Menunggu Dipinang
 
Anda disebut sosok yang  pantas maju di Pilpres 2018, tanggapan Anda?
 
Politik ini cair, maka kita diwajibkan untuk berikhtiar. Agama saya mengatakan, kalau kita punya kemampuan dan ilmu, bisa memperbaiki atau menyempurnakan yang belum sempurna, kita harus berbuat. Apalagi saya siap untuk mengabdi. 
 
Sejauh ini sudah ada komunikasi dengan partai politik?
 
Tadi malam (23 April) saya berkomunikasi hingga pukul 24.00 WIB. Dengan Gerindra, PAN, Golkar, PPP, dan PKS.

Gatot Nurmantyo saat masih menjabat Panglima TNI. Foto: MI/Atet Dwi

Ada sinyal positif? 
 
Ya, kita diskusi saja. Waktu kita di ILC (Acara talkshow di TVOne) kan sampai pukul 24.00 WIB. Kita diskusi saja.
 
Katanya Anda menolak ajakan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto? 
 
Itu yang menyatakan siapa? Lebih tepatnya tanyakan kepada Pak Prabowo. Kalau saya jawab lagi kan capek. 
 
Ke depan ada rencana komunikasi ke elite partai mana lagi?
 
Setiap saat saya selalu berkomunikasi. 
 
Di survei Litbang Kompas elektabilitas Anda hanya 1,8 persen, tanggapan Anda?
 
Ya, namanya penelitian wajar-wajar saja. Angka berapa si peneliti yang tahu. Ya, itu sebagai bahan saja untuk saya becermin. Oh, saya hanya sekian. Apa yang harus dilakukan dan sebagainya.
 
Sosok yang paling dekat sejauh ini?
 
Allah SWT. 
 
Di elite politik?
 
Sama saya pikir. Di elite politik sama.
 
Ada rencana bertemu Jusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono? 
 
Dengan Bang Surya (Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, red.) juga saya dekat. Dengan Pak Prabowo juga saya dekat. Bercanda-bercanda biasa. 
 
Artinya belum ada komunikasi intens?
 
Saya selalu berkomunikasi intens, namun di level bawah. Ya, kalau pimpinan partai keliling-keliling sesekali. Ketemu, bercanda biasa.

Foto: MI/Adam Dwi


Bagaimana komentar Anda soal ada beberapa relawan yang mendeklarasikan Anda sebagai capres? 
 
Saya hormati, saya bangga, dan saya salut. Saya tidak kenal, saya tidak tahu. Tapi tumbuh berkembang bahkan sekarang menjadi lebih 14 relawan. Saya ketemunya dicegat seperti ini ‘Pak, saya dari (Relawan) Selendang Putih." Mereka bekerja dan berkarya menjadi relawan karena ketulusan. Itu yang saya hormati dan saya bangga dengan mereka. Mereka ini hebat. 
 
Dari tak kenal menjadi kenal, apakah akan menjalin komunikasi? 
 
Saya sampaikan belum saatnya kita bertemu dengan para relawan. Saya takut tadinya tulus jadi ada kecenderungan. Jadi saya biarkan alami saja dan mereka juga mengerti.
 
Kenapa hebat?
 
Mereka tidak kenal sama saya. Cuma tahu saja. Bahkan ada Relawan Selendang Putih dari Sumatera Barat. Luar biasa. Dari Padang ke sini kan enggak gratis. 
 
Setelah dekat dengan kelompok Islam, kabarnya Anda dekat dengan aktivis ‘98? 
 
Saya dekat dengan ormas Islam bukan sekarang saja. Tanya saja sama tokoh-tokoh Islam. Sejak saya kapten, saya sudah dekat. (Tokoh) Islam di Timor Timur saya dekat. Karena saya sadar diri saya manusia biasa yang penuh dosa. Semakin hari semakin deket lagi. Kalau enggak entar saya dipanggil masih banyak dosanya, susah nanti. Semoga saja amal soleh saya diterima. Kan gitu.
 
Kelak saya dipanggil Allah SWT ditempatkan di sisinya di tempat yang mulia, dekat dengan aktivis ’98. Mereka kan yang berjuang untuk melahirkan konsep-konsep kenegaraan yang saat ini berjalan. Ya, pantaslah saya hargai. Mereka pejuang kok. Mereka enggak minta duit. Mereka hanya melihat ada yang tertindas. Ya, sepantasnya saya dekat dengan siapa pun. Wong dengan Anda pun saya dekat.
 
 



(UWA)