Jakarta: Politikus senior Partai Demokrat Max Sopacua menyangsikan pernyataan-pernyataan yang dibuat kader Partai Demokrat Andi Arief, Rachland Nasidik, dan Ferdinand Hutahaean. Max yang tergabung dalam Presidium Gerakan Moral Penyelamat Partai Demokrat (GMPPD) mengecam pernyataan yang mereka buat.
"Kalau kita lihat pembicaraan di media sosial, itu keluar jalur. Berbicara sesuai keinginan sendiri," kata Max di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis, 13 Juni 2019.
Menurut Max, ketiganya kerap melontarkan pernyataan yang tak sesuai dengan marwah, karakter dan jati diri Partai Demokrat. Hal tersebut justru melahirkan inkonsistensi dan kegaduhan.
"Persolaan yang dihadapi sekarang adanya statement dari mereka yang mempergunakan nama Demokrat," kata dia.
(Baca juga: Demokrat Usul Jokowi dan Prabowo Bubarkan Koalisi)
Max menilai ketiga kader ini merusak internal Demokrat. Mengingat, yang mereka utarakan kerap tak sesuai dengan arahan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.
Ia tak memerinci arahan itu, namun yang jelas ketiganya dengan sengaja membuat gaduh. Hal ini yang mengakibatkan Demokrat kontra produktif di Pemilihan Presiden 2019. Salah satunya, kata dia, terkait Demokrat akan membubarkan diri dari koalisi.
Max menyebut tindakan itu tentu bertentangan dengan prinsip partai. Sebab, dukungan kepada Prabowo Subianto-Sandiaga Uno didasari 62 persen pilihan Dewan Pimpinan Cabang (DPC). Maka, untuk menarik hal itu diperlukan mekanisme serupa.
Untuk membereskan hal ini, Max ingin agar ketiga kader itu tak melulu melontarkan pernyataan nyeleneh ke media. Max mewakili GMPPD juga menuntut permohonan maaf dari ketiga kader yang dianggap bandel itu.
"Kepada yang bersangkutan diwajibkan menyampaikan permohonan maaf dan tidak mengulanginya lagi," kata Max.
Jakarta: Politikus senior Partai Demokrat Max Sopacua menyangsikan pernyataan-pernyataan yang dibuat kader Partai Demokrat Andi Arief, Rachland Nasidik, dan Ferdinand Hutahaean. Max yang tergabung dalam Presidium Gerakan Moral Penyelamat Partai Demokrat (GMPPD) mengecam pernyataan yang mereka buat.
"Kalau kita lihat pembicaraan di media sosial, itu keluar jalur. Berbicara sesuai keinginan sendiri," kata Max di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis, 13 Juni 2019.
Menurut Max, ketiganya kerap melontarkan pernyataan yang tak sesuai dengan marwah, karakter dan jati diri Partai Demokrat. Hal tersebut justru melahirkan inkonsistensi dan kegaduhan.
"Persolaan yang dihadapi sekarang adanya
statement dari mereka yang mempergunakan nama Demokrat," kata dia.
(Baca juga:
Demokrat Usul Jokowi dan Prabowo Bubarkan Koalisi)
Max menilai ketiga kader ini merusak internal Demokrat. Mengingat, yang mereka utarakan kerap tak sesuai dengan arahan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.
Ia tak memerinci arahan itu, namun yang jelas ketiganya dengan sengaja membuat gaduh. Hal ini yang mengakibatkan Demokrat kontra produktif di Pemilihan Presiden 2019. Salah satunya, kata dia, terkait Demokrat akan membubarkan diri dari koalisi.
Max menyebut tindakan itu tentu bertentangan dengan prinsip partai. Sebab, dukungan kepada Prabowo Subianto-Sandiaga Uno didasari 62 persen pilihan Dewan Pimpinan Cabang (DPC). Maka, untuk menarik hal itu diperlukan mekanisme serupa.
Untuk membereskan hal ini, Max ingin agar ketiga kader itu tak melulu melontarkan pernyataan nyeleneh ke media. Max mewakili GMPPD juga menuntut permohonan maaf dari ketiga kader yang dianggap bandel itu.
"Kepada yang bersangkutan diwajibkan menyampaikan permohonan maaf dan tidak mengulanginya lagi," kata Max.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)