Orba, Didambakan tapi tak Diharapkan
Diskusi 20 Tahun Reformasi, Demokrasi di Simpang Jalan di Gedung Metro TV. Foto: Medcom.id/Yogi Bayu Aji.
Jakarta: "Piye kabare, penak zamanku to." Di media sosial, kata-kata itu kerap disandingkan dengan foto Presiden ke-2 Soeharto. Meme itu seakan menanyakan kondisi publik saat ini yang dirasa kesusahan. 

Namun, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menilai gimik ini tak memiliki arti. Pasalnya, walau publik mendambakan era Orde Baru (Orba) di bawah pimpinan Soeharto, tak ada yang mau menghidupkan lagi masa itu.

"Kalau ditanya mau kembali ke Orba, sebagian enggak akan mau," kata Burhanuddin dalam diskusi "20 Tahun Reformasi: Demokrasi di Simpang Jalan", di Gedung Metro TV, Jakarta Barat, Kamis, 26 April 2018. 


Burhanuddin tak asal bicara. Sikap itu terlihat dalam survei nasional terhadap anggota DPRD yang sempat dia gelar. Survei memperlihatkan para elite politik di daerah menilai pemerintah pascareformasi tak mampu meningkatkan kebanggaan bangsa.

Baca: Akseptasi Demokrasi Bertumpu ke Pemerintah

Para legislator menganggap kinerja pemerintah di bidang ekonomi masa Orba jauh lebih baik dari sekarang. Namun, mereka tetap merasa lebih nyaman hidup di era reformasi. 

Sementara itu, dalam survei lainnya, Burhanuddin melihat publik masih sepakat untuk menerapkan sistem demokrasi seperti yang dipakai saat ini. Akseptasi terhadap demokrasi cukup besar pada masyarakat muda yang tak terpapar Orba.

"Usia semakin muda, semakin tinggi penerimaan terhadap demokrasi," jelas dia.



(OGI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id