Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

Psikolog: RUU Ketahanan Keluarga Lecehkan Perempuan

Nasional RUU Ketahanan Keluarga
Media Indonesia • 20 Februari 2020 23:25
Jakarta: Ahli psikologi klinis Ratih Ibrahim menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga yang diusulkan DPR. Aturan ini dianggap mengembalikan kondisi ke era sebelum emansipasi perempuan.
 
"Ini penghinaan, merendahkan perempuan, melecehkan eksistensi perempuan sebagai insan yang sama mulianya dengan lelaki dalam memberikan kontribusinya bagi kehidupan dan kehidupan bermasyarakat," kata Ratih kepada Media Indonesia, Kamis, 20 Februari 2020.
 
Ratih menyesalkan RUU ini turut diusulkan legislator perempuan. Ide yang termuat draf aturan ini dianggap tidak adil bagi perempuan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Peran perempuan di sektor domestik diatur secara berlebihan. Sementara itu, apresiasi terhadap keterlibatan dan kontribusi perempuan di sektor publik dihilangkan.
 
"Mosok jika suaminya tidak mampu jadi breadwinner (pencari nafkah), istrinya enggak boleh bekerja?" imbuh lulusan Universitas Indonesia (UI) itu.
 
Dia menyayangkan hanya nilai salah satu agama yang menjadi dasar dibangunnya RUU ini. Indonesia, kata dia, bukan negara dengan satu agama saja.
 
Menurut dia, untuk membangun keluarga yang harmonis tidak membutuhkan regulasi khusus. Syarat yang dibutuhkan hanya pasangan dewasa siap menikah dan menjadi orang tua yang mandiri secara psikologis, sosial, dan finansial.
 
Suami dan istri, kata dia, harus saling mencintai, sehat jasmani, dan rohani. Mereka harus saling bekerja sama dalam mengupayakan keharmonisan rumah tangga.
 
Psikolog: RUU Ketahanan Keluarga Lecehkan Perempuan
Pasangan muda mengikuti resepsi pernikahan massal di Istora Senayan, Jakarta, Rabu, 28 Januari 2015. Foto: MI/Ramdani
 
"Suami istri lelaki dan perempuan itu mitra hidup, partner. Peran masing-masing dilakukan berdasarkan komitmen dan kebutuhan di sepanjang usia perkawinan. Masing-masing keluarga punya dinamika dan romantikanya sendiri-sendiri," jelas dia.
 
RUU Ketahanan Keluarga diusulkan lima anggota Dewan. Mereka yakni Ledia Hanifa dan Netty Prasetiyani dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Sodik Mudjahid dari Fraksi Partai Gerindra, Ali Taher dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), dan Endang Maria dari Fraksi Partai Golkar.
 
Keberadaan RUU ini mengundang kontroversi. Pasal, RUU mengatur penanganan krisis keluarga akibat perilaku seks menyimpang, pelarangan donor sperma, hingga peran perempuan dalam keluarga. (Atikah Ishmah Winahyu)
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif