Basuki Tjahaja Purnama (BTP) saat berkunjung ke kantor DPD PDIP Provinsi Bali. Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo
Basuki Tjahaja Purnama (BTP) saat berkunjung ke kantor DPD PDIP Provinsi Bali. Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo

Untung Rugi BTP Gabung PDIP

Nasional ahok pdip basuki tjahaja purnama
09 Februari 2019 07:00
Jakarta: Basuki Tjahaja Purnama (BTP) telah resmi berkolokasi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. (PDIP). Keputusan itu ia ambil setelah hampir tiga tahun lebih tanpa partai pasca mundur dari Partai Gerindra.
 
Merapatnya BTP ke partai banteng moncong putih itu dinilai memiliki untung rugi bagi kedua belah pihak. Setidaknya, bagi PDIP dan Ahok, keuntungan dan kerugian itu bisa dilihat secara kasat mata.
 
Peneliti politik Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie mengatakan, keuntungan BTP merapat ke PDIP yakni, ia bisa bergabung dengan partai penguasa parlemen dengan 109 kursi. "Bahkan bisa reunian dengan sahabat lama, sang (calon presiden) petahana Joko Widodo," kata Jerry saat dihubungi Medcom.id di Jakarta, Jumat, 8 Februari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, keuntungan untuk BTP, bila Jokowi kembali memimpin Indonesia 2019-2024, peluang dia untuk masuk kabinet cukup besar. "Atau bisa saja masuk bursa calon Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)," lanjutnya.
 
Dalam masa kampanye Pilpres 2019 ini, kehadiran BTP di PDIP juga diprediksi bisa semakin merenjengkan perolehan suara pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin. Ini dianggap bisa menjadi keuntungan bagi PDIP dan Jokowi.
 
Ini dapat dilihat dari basis massa pendukung BTP yang loyal. Apalagi, beberapa pendukung BTP sempat kecewa dengan keputusan Jokowi yang menggandeng Ma'ruf. Oleh karena itu, kehadiran BTP dirasa dapat mampu mengerek suara, khususnya di kalangan milenial dan ibu-ibu. "Lantaran dua kelompok ini fans dan followers-nya BTP cukup banyak," ujarnya.
 
Baca:Ahok Resmi Gabung PDIP
 
Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Ace Hasan Syadzily mengamini pernyataan Jerry. Menurut dia, pendukung Jokowi dan BTP memiliki irisan yang sama.
 
"Jadi saya yakin ini hanya memperkuat pendukung BTP untuk semakin mantap mendukung Pak Jokowi," tegas Ace.
 
Namun, di sisi lain, bergabungnya BTP ke PDIP juga memiliki kerugian yang bisa berdampak langsung ke sosok kelahiran Manggar, Belitung Timur itu. Salah satunya yakni, BTP yang identik dengan pemimpin antikorupsi malah bergabung dengan PDIP yang kini kadernya tengah banyak tersangkut masalah korupsi.
 
Ini terlihat dari tahun 2018 saja ada delapan kepala daerah asal PDIP yang tertangkap tangan oleh KPK. Terbaru, pada awal tahun ini, KPK juga baru saja menetapkan Bupati Kotawaringin Timur, Supian Hadi sebagai tersangka korupsi senilai Rp5,8 triliun.
 
Baca:BTP Hanya Bisa Memilih Presiden
 
"Dia (BTP) kan mantan pejabat yang getol antikorupsi. Bergabung dengan PDIP akan menjadi tantangan dengan hati nurani. Pasalnya, 2018 lalu, dari 29 pejabat yang terkena OTT, paling banyak dari PDIP," kata Jerry.
 
BTP resmi bergabung dengan PDIP. Kepada media, mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengaku, ia memilih partai besutan Megawati Soekarnoputri itu lantaran sesuai dengan garis ideologi perjuangannya.
 
"Memang sesuai garis ideologi perjuangan saya," kata BTP.
 
Baca:Hasto Puji Persahabatan Ahok dan Djarot
 
BTP sudah memiliki kartu tanda anggota (KTA) PDIP sejak 26 Januari 2019, atau dua hari setelah ia resmi keluar dari penjara. Ia juga sudah menemui Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk meminta izin langsung untuk masuk ke PDIP.

 
(DMR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif