Seorang warga yang terjaring razia penindakan pelanggaran aturan PSBB oleh Satpol PP menjalani hukuman dengan cara membersihkan sampah di Tanah Abang, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2020. Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Seorang warga yang terjaring razia penindakan pelanggaran aturan PSBB oleh Satpol PP menjalani hukuman dengan cara membersihkan sampah di Tanah Abang, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2020. Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay

Ma’ruf: Pelonggaran PSBB Baru Wacana

Nasional Virus Korona PSBB
Misbahol Munir • 21 Mei 2020 21:31
Jakarta: Akhir-akhir ini ramai wacana pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Wacana itu pun menuai kontroversi. Pasalnya, situasi wabah pandemi virus korona (covid-19) di Tanah Air belum sepenuhnya bisa dikendalikan.
 
Wakil Presiden Ma’ruf Amin menjelaskan munculnya ide pelonggaran PSBB atau relaksasi itu karena sektor ekonomi sangat terpukul akibat pandemi. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) muncul. Pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama turun hanya sampai 2,97 persen.
 
"Kita juga belum tahu nanti pertumbuhan seperti apa. Makanya kita ingin bagaimana menahan, tentu harus ada yang digerakkan. Makanya ada ide relaksasi yang muncul. Tapi tentu agar ide relaksasi tidak merusak apa yang kita sudah lakukan, kalau saya menyebutnya improvisasi,” ujar Ma’ruf kepada Medcom.id dalam program Newsmaker, beberapa waktu lalu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Ma’ruf, relaksasi atau pelonggaran itu bisa dilakukan bila kasus covid-19 benar-benar terkendali. “(Virus) bukan hilang atau habis. Terkendali, artinya kasus covid tidak naik tapi pelan-pelan turun sehingga kebijakan relaksasi itu tidak membahayakan,” kata dia.
 
Namun, kata Ma’ruf, wacana itu batal direalisasikan. Ide ini berpeluang besar dilakukan pemerintahan Presiden Joko Widodo setelah Idulfitri 1441 Hijriah.
 
Ma’ruf: Pelonggaran PSBB Baru Wacana
 
Baca: Mayoritas Pelanggar PSBB DKI Tak Didenda
 
“Diperkirakan dalam setengah bulan (ke depan). Setengah bulan ini diupayakan supaya pandemi ini terkendali sehingga tidak terjadi lonjakan-lonjakan. Kalau itu tidak terkendali, kita balik ke awal lagi kemudian memperpanjang musim pandemi,” tegas dia.
 
Untuk itu, mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menginginkan penanganan virus korona terus diperkuat. “Jangan sampai turun dan yang belum diupayakan terkendali. Baru kita masuk ke langkah relaksasi dan improvisasi. Menurut pendapat saya begitu,” imbuh dia.
 
Informasi lengkap tentang perkembangan penanganan pandemi covid-19 bisa langsung diakses di sini.
 

(OGI)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif