LSI Denny JA Tegaskan tak Ada Pesanan <i>Quick Count</i>
Ilustrasi hitung cepat oleh lembaga survei - MI/Mohamad Irfan.
Jakarta: Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Network Denny JA, Toto Izul Fatah menegaskan, hasil hitung cepat atau quick count lembaga survei pada Pilkada Serentak 2018 bisa dipertanggungjawabkan. Toto menepis adanya pesanan untuk mengunggulkan pasangan calon tertentu.

“Pengumuman ini dilakukan LSI Denny bukan dalam rangka gagah gagahan, tapi sekali lagi, lebih dalam rangka pertanggungjawaban akademis, moral sekaligus profesional, bahwa yang kita lakukan melalui quick count ini tidak asal-asalan. Tidak karena pesanan dan lain-lain,” tegas Toto Izul Fatah dalam keterangannya, Sabtu, 30 Juni 2018.

Toto menyebut, sangat berisiko jika quick count dibuat asal-asalan apalagi tergantung pesanan. Hal itu bukan hanya mempertarungkan hidup dan mati lembaga, tapi juga tanggung jawab akademisnya kepada publik. 


Ia mengklaim, LSI Denny JA belum pernah sekalipun meleset dalam 200 kali melakukan quick count. Bahkan, sampai selisih 0,0 persen hasilnya dengan KPUD, seperti pada Pilkada Sumbawa Barat 2012. 

Pada Pilkada 2018, LSI Denny JA melakukan quick count kepada 10 daerah yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selasan, Nusa Tengara Barat (NTB), Maluku, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan dan Sumatera Utara.

Di Jawa Barat dimenangkan oleh Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum dengan 32,98%, dan tingkat golput 30,86%. Kemudian, Ganjar Pranowo-Taj Yasin unggul di Jawa Tengah dengan 58,26%, dan golput 35,47%. Jawa Timur dimenangkan Khofifah-Emil Elestianto Dardak dengan 54,29% dan tingkat golput 34,49%.

Sulawesi Selatan dimenangkan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman dengan 42,92%, dan tingkat golput 27,41%, NTB dimenangkan Zulkieflimansyah-Siti Rohmi Djaillah dengan 30,84%, dan tingkat golput 24,15%, Maluku dimenangkan Murad Ismail-Barnabas Orno dengan 40,00%, dan tingkat golput 25,27%.

Lalu, Kalbar dimenangkan Sutarmadji-Ria Norsan dengan 56,9%, dan tingkat golput 17,41%. Kaltim dimenangkan Isran Noor-Hadi Mulyadi dengan 31,30%, dan tingkat golput 40,28%. 

(Baca juga: Waketum Gerindra Tuding Lembaga Survei Menipu Masyarakat Jabar)

Sumsel dimenangkan Herman Deru-Mawardi Yahya dengan 35,28%, dan tingkat golput 30,17% dan Sumatera Utara dimenangkan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah dengan 57,12%, dengan tingkat golput 34,65%. 

Data yang masuk pada 10 provinsi tersebut sudah 100 persen. Menurut dia, perolehan suara pasangan calon tak ada yang mengagetkan jika dibandingkan dengan rata-rata dua kali survei sebelum pilkada berlangsung. Kecuali, wilayah-wilayah tertentu yang persaingannya cukup ketat seperti Jawa Barat, Jawa Timur dan Sumatera Utara.

“Memang terjadi dinamika yang ketat dalam H-1 bulan sampai H-2 minggu. Tentu, dalam sisa waktu itu selalu terjadi migrasi suara, tergantung kecerdasan masing-masing pasangan dan timnya untuk memanfaatkan peluang waktu tersisa. Terutama, dalam wilayah wilayah yang masih tinggi soft supporter nya,” jelas Toto.

Ia mencontohkan di Pilkada Jawa Barat. Kemenangan Ridwan Kamil sudah diprediksi. 

Sehingga bukan sebuah kejutan. Kendati demikian, ia mengakui ada kenaikan cukup signifikan dari pasangan nomor urut tiga, Sudrajat-Ahmad Syaikhu, dari sebelumnya 8,9% melesat ke 28,05%. 

Menurut Toto, melonjaknya suara pasangan ASYIK diduga karena mendapat limpahan suara dari kemerosotan pasangan Ridwan Kamil-Uu dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi.

Ia mengatakan, Ridwan Kamil dalam satu bulan terakhir diserang isu LGBT dengan cukup masif. Kemudian, Dedi Mulyadi diserang isu dukun dan fatwa ulama Purwakarta yang juga cukup masif.

Ia menuturkan tak dipungkiri faktor sumbangan kemasan program yang cerdas dan masif dari pasangan ASYIK, mulai dari mesin partai PKS sampai ke aneka testimoni sejumlah tokoh agama yang terang-terangan mengajak memilih pasangan nomor urut tiga seperti dari ustaz Arifin Ilham, Mamah Dedeh dan lainnya.

Ia mengungkapkan, pasangan ASYIK lebih banyak mendapat limpahan suara ketimbang pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan karena dianggap paling minimal resistensinya.

“Kalau melihat dari tracking survei LSI pada Maret dan Juni, kedua pasang, RINDU dan Dua DM ini memang mengalami tren penurunan. RINDU yang pada Maret 39% dan turun pada Juni ke 38%, lalu turun lagi ke 32% pada quick count kemarin. Begitu juga Dua DM yang andalan pengumpul suaranya ada di Dedi Mulyadi, karena Deddy Mizwar sudah mentok, terjadi penurunan cukup drastis karena dua isu tadi,” ungkap dia.

(Baca juga: Gerindra tak Percaya Hasil Hitung Cepat Pilgub Jabar)


 



(REN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id