Penampakan alat pemantau tinggi muka air yang menjadi bagian sistem pemantau air lahan gambut (SIPALAGA). Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto.
Penampakan alat pemantau tinggi muka air yang menjadi bagian sistem pemantau air lahan gambut (SIPALAGA). Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto.

Mengintip Teknologi Alat Pemantau Air Lahan Gambut

Nasional restorasi lahan gambut
Theofilus Ifan Sucipto • 26 November 2019 14:43
Jakarta: Badan Restorasi Gambut (BRG) memiliki sejumlah program pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat kekeringan. Salah satunya menggunakan Sistem Pemantau Air Lahan Gambut (Sipalaga).
 
Rohmat, salah satu teknisi alat pemantau tinggi muka air (TMA), menjelaskan cara kerja alat itu. Alat pemantau TMA terdiri dari sensor tinggi muka air, kadar air tanah, dan curah hujan.
 
"Ketiga sensor ini akan berkaitan dalam perhitungan penelitian tentang lahan gambut," kata Rohmat saat berbincang dengan Medcom.id di Mercure Convention Center, Jakarta Utara, Selasa, 26 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rohmat menjelaskan sensor TMA akan dimasukkan ke dalam sungai, sumur, atau waduk. Sensor TMA akan menghitung berdasarkan tekanan air.
 
Sementara sensor kadar air tanah ditancapkan ke dalam tanah. Sensor itu akan menampilkan jumlah air dalam tanah.
 
"Semakin besar persentasenya, artinya tanah tidak bisa lagi menampung air sehingga terjadi genangan," ujar Rohmat.
 
Selain itu, lanjut dia, sensor curah hujan berfungsi melihat ketinggian air hujan. Ketika hujan turun, air akan ditampung penahan sebelum mengucur ke sensor di bawahnya.
 
"Setiap luasan volume tertentu kita sudah kalibrasi satu ketukan air hujan menghasilkan 0,2 milimeter hujan," jelas Rohmat.
 
Data dari tiga sensor itu akan ditampilkan dalam alat TMA secara aktual. Sistem alat itu akan mengirimkan pesan singkat kepada nomor ponsel yang terdaftar jika ketinggian atau kadar air melebihi batas.
 
"Misalnya curah hujan sudah lebih dari 60 milimeter, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) siap siaga untuk mengevakuasi warganya," pungkas Rohmat.
 
Dia menyebut alat pemantau TMA sudah dipasang BRG sejak 2017. Hingga 31 November 2019, sudah 172 unit terpasang di beberapa daerah seperti Jambi dan Kalimantan.
 

 

(DRI)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif