Wakil Presiden Jusuf Kalla. Foto: Medcom.id/Fikar.
Wakil Presiden Jusuf Kalla. Foto: Medcom.id/Fikar.

KB Dinilai Berdampak pada Lapangan Pekerjaan

Nasional keluarga berencana
Achmad Zulfikar Fazli • 25 Februari 2019 18:36
Jakarta: Pertumbuhan penduduk yang cepat dinilai tak hanya berpengaruh pada kebutuhan pangan, tapi juga lapangan pekerjaan.
 
Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan semakin majunya teknologi dan industri, kebutuhan terhadap pekerja lebih selektif. Para pekerja yang unskilled akan terbuang di industri pekerjaan.
 
"Yang dibutuhkan buruh yang skilled," kata JK dalam sambutannya saat membuka Simposium Nasional Tantangan Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga Memasuki Era Revolusi Industri 4.0, di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Kamis, 25 Februari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tak hanya itu, perkembangan teknologi membuat sejumlah industri akan mengurangi pekerja. Sebab, mereka telah memiliki alat yang lebih canggih dan bisa dioperasikan hanya dengan sedikit pekerja.
 
"Teknologi akan mengganti sebagian orang lebih sedikit. Dulu satu industri 1.000 buruhnya, sekarang hanya dibutuhkan 200-300 orang," katanya.
 
Kalla menegaskan. KB dibutuhkan bukan lantaran takut kemiskinan meningkat. Tapi, ada kekhawatiran lapangan pekerjaan yang tak mampu mengimbangi pertumbuhan penduduk tersebut.
 
"Bagaimana membagi kue kemakmuran apabila yang membaginya terlalu banyak," ucap dia.
 
Baca: Pentingnya Melakukan Perencanaan Keluarga bagi Pasangan
 
Karena itu, kata JK, KB menjadi program nasional. Dia mengakui setiap daerah berbeda-beda hasilnya dalam menjalankan program tersebut. Ada daerah yang berhasil dan adapula yang gagal.
 
"Tapi yang paling penting bahwa terjadi suatu penurunan yang baik," kata dia.
 
Kendati menggemborkan program KB, JK tak ingin masyarakat merasa cukup dengan memiliki satu anak. Kebijakan itu sempat diterapkan di beberapa negara seperti Singapura dan China. Namun, negara tersebut kini menyesal dengan kebijakan itu.
 
Mereka kini meminta warganya untuk tidak hanya memiliki satu anak. Mereka bahkan memberikan intensif bila warganya melahirkan lebih dari satu anak.
 
"Kalau dulu dikasih disinsentif bagi yang melahirkan, sehingga orang Singapura pada ketakutan untuk melahirkan," kata JK.

 

(FZN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif