Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh memberikan kuliah umum bertajuk 'Tantangan Bangsa Indonesia Kini dan Masa Depan' di Kampus Universitas Indonesia (UI), Salemba, Jakarta Pusat, Rabu, 14 Agustus 2019. Foto: MI/M Irfan
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh memberikan kuliah umum bertajuk 'Tantangan Bangsa Indonesia Kini dan Masa Depan' di Kampus Universitas Indonesia (UI), Salemba, Jakarta Pusat, Rabu, 14 Agustus 2019. Foto: MI/M Irfan

Surya Paloh Ingatkan Tantangan Bangsa Saat Kuliah Umum di UI

Nasional surya paloh kebangsaan
Putra Ananda • 14 Agustus 2019 19:34
Jakarta: Tokoh nasional yang juga Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mengisi kuliah umum kebangsaan di Kampus pascasarjana Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut Surya memaparkan tantangan-tantangan perjalanan bangsa Indonesia dari Orde Lama, Orde Baru, serta tantangan saat ini di era reformasi.
 
Di hadapan 150 peserta kuliah umum yang didominasi oleh mahasiswa Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI), Surya menyebut bahwa Indonesia tidak pernah terlepas dari tantangan. Tantangan tersebut sudah ada sejak era penjajahan kolonial, saat para pendiri bangsa berjuang bersama merebut kemerdekaan.
 
"Seperti yang kalian tahu tantangan itu adalah bagaimana kita berupaya dengan kemampuan yang ada agar keutuhan bangsa ini tetap terjaga," kata Surya, Rabu, 14 Agustus 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam kesempatan tersebut Surya juga menegaskan bahwa bangsa ini juga memiliki sumber daya alam yang melimpah sehingga mampu membuat negeri ini sangat kaya. Belum lagi dengan jumlah penduduk demografis yang masuk dalam daftar papan atas dunia. Hal itu, kata Surya, menjadi tantangan bagi anak bangsa untuk bertanggung jawab mengelola apa yang sudah diberikan Tuhan untuk Indonesia.
 
"Kita bicara mengenai tantangan betapa karunia sang pencipta Tuhan Yang Maha Esa telah kita peroleh. Kita coba breakdown di mana saja. Saya katakan tidak semua negeri, tidak semua bangsa-bangsa lain mendapatkan anugerah yang begitu luar biasa seperti apa yang dimiliki kita di negeri ini," kata Surya.
 
Baca: Surya Paloh: Perbedaan Harus Menjadi Penguat Kebangsaan
 
Surya mengatakan kenikmatan yang dialami oleh bangsa ini merupakan episode dari hasil akumulasi perjalanan masa lalu dimana Indonesia pernah terjajah selama 3,5 abad.
 
"Sejak awal kemerdakaan pejuang bangsa kita, pemikir bangsa bisa melahirkan obsesi besar tentang kemerdekaan. 3 hari lagi kita akan menyambut 74 tahun episode kemerdekaan kita,” tambah Surya.
 
Surya juga terpukau dengan para pendiri bangsa ini dalam merumuskan sistem ketatanegaraan Indonesia. Ada dua pilihan apakah menggunakan sistem parlementer atau presidensial. Selain itu, Surya juga mengapresiasi hasil-hasil diplomasi kelas dunia yang dilakukan oleh para pendiri bangsa yang sukses menggelar Konferensi Asia Afrika (KAA) pada saat itu.
 
"Indonesia berhasil menempatkan diri sebagai negara nonblok. Banyaknya negara yang merdeka terinspirasi dari KAA," tuturnya.

Menghormati pluralisme


Dalam kesempatan tersebut Surya juga mengajak kepada seluruh elemen bangsa untuk dapat mengisi cita-cita proklamasi dengan bersama-sama menghormati rasa toleransi. Penghormatan terhadap pluralisme merupakan salah satu kekuatan bangsa Indonesia yang bisa dilakukan untuk tetap mempertahankan ideologi Pancasila.
 
"Penghormatan terhadap pluralisme apakah masih menjadi andalan kita di negeri ini? Silakan jawab sendiri. Saya katakan dari apa yang saya pahami paling tidak terdistorsi sedikit dari 75 persen. Harus diakui kita tidak tempatkan pluralisme menjadi salah satu kekuatan kita menjalankan bangsa dan negara, namun saya berysukur bangsa ini masih menempatkan ideologi Pancasila," katanya.
 
Surya pun memaparkan bahwa tantangan bersama kita ke depan ialah persaingan di tingkat global. Ia mengajak seluruh elemen bangsa terutama kaum muda untuk mampu terus belajar dan menguasai teknologi untuk mewaspadai menurunnya kualitas SDM dan SDA yang ada di Indonesia.
 
"Itu jawaban tentang tantangan Indonesia. Tantangan yang utama ialah mampukah kita mempertahankan NKRI ini? Inilah merupakan tantangan bersama. Karena ekses dari sistem yang ada pada hari ini, yang tumbuh berkembang, adalah aliran yang non-Pancasila yang tidak ada kedekatan emosional tentang komitmen Pancasila," tandasnya.
 

(UWA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif