Siwi Sukma Adji, dari Geladak Kapal Menggapai KSAL
Siwi Sukma Adji dilantik menjadi kepala staf TNI Angkatan Laut (KSAL). Foto: Medcom.id/Achmad Zulfikar Fazli
Jakarta: Memulai sebagai prajurit dari geladak sejumlah kapal perang RI (KRI), Laksamana Madya Siwi Sukma Adji akhirnya mencapai puncak karier di TNI Angkatan Laut. Siwi dilantik menjadi kepala staf TNI Angkatan Laut (KSAL) menggantikan Laksamana Ade Supandi di Istana Negara, Rabu, 23 Mei 2018.

Selepas lulus dari Akademi Angkatan Laut pada 1985, Siwi menjadi perwira bahari di KRI Oswald Siahaan-354. Kapal fregat legendaris bekas pakai angkatan laut Belanda, HMNLS Isaac Sweers F805, ini masih andal sampai sekarang.

Sebagai bukti, kapal ini bisa menangkap kapal ikan China yang tengah mencuri ikan di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia pada akhir Mei 2016. Penangkapan sempat panas karena kapal ikan itu dikawal kapal Coast Guard China.


Karier Siwi berlanjut ke geladak KRI Untung Suropati-372. Di kapal jenis korvet itu dia dipercaya sebagai kepala Departemen Operasi. Berturut-turut Siwi kemudian mendapat penugasan sebagai perwira pelaksana di KRI Teluk Sampit-515, komandan KRI PRB-728, komandan KRI STS-376, dan komandan KRI Nala.

Karier terakhirnya di atas kapal perang adalah saat dipercaya menjadi komandan KRI Ki Hajar Dewantara-364. Di sini, kepemimpinanya mulai terlihat. Apalagi kapal berkode KDA-364 ini dikenal sebagai kapal latih tempur untuk para perwira TNI AL.

Baca: Laksdya Siwi Dilantik Jadi KSAL Siang Ini

Merujuk laman indomiliter.com, KDA-364 merupakan kapal yang disiapkan untuk perwira yang siap tempur. "Bisa dibilang, di kapal inilah perwira TNI AL yang baru lulus memulai pengabdiannya sebagai pelaut tempur sejati," demikian laman itu memberitakan.

Karier Siwi lantas melesat dan sempat menjadi Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar). Asisten Perencanaan Umum Panglima TNI juga pernah dia emban. Jabatan terakhir sebelum menjadi KSAL adalah komandan jenderal Akademi TNI.

Pengamat militer Susaningtyas Kertopati membenarkan jika Siwi adalah perwira yang lama ditempa di geladak. "Ia adalah sosok perwira TNI AL yang memiliki kapabilitas dan komitmen tinggi terhadap integritas dan kinerja organisasi TNI AL," katanya, Rabu, 23 Mei 2018.

Baca: KSAL Baru Lanjutkan Program Pendahulunya

Susaningtyas mengenal Siwi sebagai komandan beberapa kapal kombatan hingga tipe penghancur atau destroyer. Beberapa misi operasi laut, baik gabungan dengan TNI AD dan TNI AU maupun operasi bersama dengan AL beberapa negara, telah dialami dan dituntaskannya dengan baik.

"Selama bertugas ia juga dikenal sosok senior yang mengayomi perwira junior. Ia memiliki pandangan yang moderat dan memberi apresiasi terhadap prestasi juniornya," kata dosen di Universitas Pertahanan itu.

Menyiapkan SDM

Sebagai KSAL yang baru, Susaningtyas berharap Siwi bisa menciptakan perwira dari generasi muda yang kompetitif. "Agar memiliki profesionalisme tinggi setara dengan prajurit AL negara-negara maju lainnya."

Situasi kawasan dan dinamika lingkungan strategis juga menuntut Siwi untuk lebih berkonsentrasi menjabarkan visi Presiden Joko Widodo menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

"Terutama pilar kelima, yaitu mewujudkan pertahanan maritim yang andal," katanya.

Baca: Alasan Jokowi Pilih Laksdya Siwi Jadi KSAL

Ia menilai pemilihan Siwi selaras dengan kebijakan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang ingin mengembangkan kekuatan TNI AL di wilayah timur Indonesia. Maklum, Siwi adalah perwira yang besar dan lama mengabdi di Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim).

Armada ketiga

Penyiapan prajurit yang andal menjadi kebutuhan seiring rencana pembentukan armada ketiga, selain Koarmatim dan Koarmabar. Di sejumlah kesempatan mantan KSAL Laksamana Ade Supandi menyatakan pembentukan armada ketiga penting untuk memperkuat kedaulatan laut Indonesia.

“Ini (pembentukan armada ketiga) menjadi program 100 hari Panglima TNI,” kata Ade, 15 Maret lalu.

Pembentukan armada baru ini pun mengharuskan ada relokasi kekuatan TNI AL ke kawasan tengah dan timur. Relokasi, kata Susaningtyas, penting untuk meningkatkan stabilitas keamanan, membuka akses daerah, serta menciptakan pertumbuhan ekonomi.

"Sejarah di Indonesia membuktikan bahwa setiap pembentukan tangsi militer selalu menjadi cikal bakal kemajuan kota-kota yang baru," kata mantan anggota Komisi I bidang Pertahanan DPR itu.

Siwi pun punya tugas berat untuk lebih objektif dalam memilih jajaran di bawahnya. Jangan sampai mengedepankan suka atau tidak suka dan lebih mementingkan angkatan lulus di AAL.

"Pilih prajurit berdasarkan merit system, agar TNI AL lebih cepat menuju world class navy," ucapnya.





(UWA)