Indonesia Sudah Konsisten pada Pancasila
Pengendara melintas di depan mural Garuda Pancasila. Foto: ANTARA/Muhammad Iqbal.
Jakarta: Polemik peraturan daerah (Perda) Syariah dan Perda Injil dinilai tak perlu dilanjutkan. Sebab, Indonesia sudah komitmen dengan Pancasila.
 
Direktur Eksekutif Maarif Institute Muhammad Abdullah Darraz mengatakan Perda Syariah dan Perda Injil kecenderungan dari politik identitas. Hal itu bisa menjadi pematik perpecahan di masyarakat.
 
Dia mengingatkan, bangsa negara di dunia menyadari masyarakat di Indonesia beragama.  Untuk itu, pada sila pertama dimasukan unsur agama secara global, Ketuhanan Yang Maha Esa.
 
"Pendiri bangsa kita juga enggak mau itu (menonjolkan ego).  Mereka memaklumi kita ini beragama. Semua agama itu dirangkul," kata Darraz, Jumat, 16 november 2018.
 
Darraz berharap  Perda Syariah maupun Perda Injil tidak teralisasi. Dirinya khawatir keberadaan aturan tersebut menyebabkan perpecahan.
 
"Adanya perda itu (Syariah dan Injil) malah menonjolkan egoisme masing-masing agama, walaupun saya yakin masing-masing agama mengajukan itu.  Tapi Perda itu bisa jadi cikal bakal perpecahan.  Mari kembali ke Pancasila," ujarnya.

Baca: PSI Dinilai Ahistoris Tolak Perda Syariah

Terkait politikus PAN Eggy Sudjana yang melaporkan Ketua Umum PSI Grace Natalie ke Bareskrim Polri dinilai tidak perlu. Selain masih wacana, Indonesia sudah berkomitmen pada Pancasila.
 
"Enggak perlu, enggak penting dilakukan kalau kita sudah konsisten pada pancasila," kata Darraz.
 
Sebelumnya, Grace mengatakan PSI menolak Perda Injil dan Syariah karena hukum di Indonesia harus universal dan berlaku untuk semua agama, tidak parsial.
 
Akibat ucapannya itu, Grace dilaporkan Eggy ke Bareskirm Polri karena dianggap sebagai penista agama.




(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id