Warga Koja, Jakarta Utara, menunjukkan olahan biji salak, Sabtu, 4 April 2020. Foto: Medcom.id/Yurike Budiman
Warga Koja, Jakarta Utara, menunjukkan olahan biji salak, Sabtu, 4 April 2020. Foto: Medcom.id/Yurike Budiman

Warga Koja Olah Biji Salak Jadi Minuman Peredam Gejala Korona

Yurike Budiman • 04 April 2020 12:23
Jakarta: Pandemi virus korona (covid-19) membuat masyarakat berinovasi mencari obat alternatif. Gus Ing, warga Koja, Jakarta Utara, salah satunya. Dia mengolah biji salak menjadi bubuk serupa kopi. 
 
Bubuk ini dijadikan minuman yang diklaim dapat menyembuhkan gejala virus korona, seperti batuk dan demam. Gus Ing mengaku mendapat petunjuk membuat olahan biji salak setelah bermunajat selama empat hari. 
 
"Alhamdulillah Allah memberi petunjuk bahwa ingin mengatasi korona dan diberilah petunjuk biji salak. Pertama kali kami kebingungan membuat biji salak karena biji salak itu keras," kata Gus Ing di tempat pengolahan biji salak, Jalan Mindi, Koja, Jakarta Utara, Sabtu, 4 April 2020.

Untuk membuat biji salak menjadi bubuk, ia bekerja sama dengan pengurus Pos Pelayanan Teknologi (Posyantek) Kecamatan Koja dan Bank Sampah. Proses pembuatan minuman ini diawali dari menjemur biji salak selama beberapa hari. Setelah kering, biji salak diiris-iris hingga berukuran kecil.
 
Potongan biji salak kemudian disangrai hingga menghitam. Biji salak kemudian diblender hingga menjadi bubuk. Bubuk inilah yang diseduh dengan air panas untuk diminum, tanpa gula. Satu kilogram biji salak bisa diolah menjadi bubuk seberat dua ons.
 
Warga Koja Olah Biji Salak Jadi Minuman Peredam Gejala Korona
 
Baca: Pemerintah Belum Menemukan Obat Korona
 
"Kami sudah beberapa kali uji coba pada orang yang pernah meminum ini selama tiga hari, setelah bangun pagi alhamdulillah sehat. Itu (yang mencoba) baru gejala (korona)," kata Gus Ing.
 
Selain menyembuhkan gejala korona, minuman ini diklaim berkhasiat untuk penyakit jantung, pencernaan, hipertensi, dan lainnya. Sampel bubuk biji salak ini telah dikirimkan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk proses penelitian lebih lanjut di laboratorium.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(OGI)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>