Jakarta: Aksi Generasi Iklim (AGI) 2025 resmi diluncurkan melalui kegiatan Sehari Bermain Bersama Anak. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama Save the Children Indonesia.
Dalam sambutannya, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, menekankan bahwa perubahan iklim telah memberi dampak signifikan bagi anak-anak.
“Banjir, kebakaran hutan, polusi udara—semua itu berdampak langsung pada anak-anak kita. Melalui AGI, kami ingin semua pihak sadar bahwa ini bukan hanya isu lingkungan, tapi juga isu masa depan anak,” jelasnya pada acara Aksi Generasi Iklim “Sehari Bermain Bersama Anak”, Sabtu, 26 Juli 2025.
Kampanye Aksi Generasi Iklim sendiri telah digagas sejak dua tahun lalu dan mulai dijalankan bersama Kemenko PMK pada 2024 di delapan provinsi. Tahun 2025, jangkauan AGI akan diperluas, terutama dengan menyasar satuan pendidikan dan pesantren agar pesannya bisa tersebar lebih luas dan terstruktur.
“Kami ingin membekali anak-anak dari sekolah dan pesantren agar lebih sadar dan aktif berpartisipasi. Mereka tidak hanya jadi objek, tapi subjek dalam menjaga bumi,” tambah Woro.
Sementara itu, Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save the Children Indonesia, menyatakan bahwa pendekatan melalui aktivitas bermain dipilih karena terbukti lebih efektif dalam menjangkau pemahaman anak-anak.
“Anak-anak adalah pihak yang paling terdampak dari krisis iklim. Dengan bermain, pemahaman bisa disampaikan secara lebih menyenangkan, dan yang terpenting lebih membekas,” ujarnya.
Dessy juga menegaskan pentingnya keterlibatan semua pihak, dari pemerintah hingga masyarakat, dalam menghadapi krisis iklim. Anak-anak tidak bisa dibebani tanggung jawab ini sendiri. Kolaborasi multipihak menjadi kunci agar dampak krisis tidak semakin memburuk.
“Kami berharap aksi-aksi yang kami lakukan akan lebih tajam, lebih mudah dipahami, dan mudah juga memberikan kesadaran kepada masyarakat,” pungkasnya.
Program “Sehari Bermain Bersama Anak” menjadi wujud nyata dari sinergi pemerintah, NGO, komunitas, dan forum anak nasional. Harapannya, AGI bisa menjadi tonggak penting dalam membentuk generasi masa depan yang tidak hanya sadar lingkungan, tetapi juga tangguh dan aktif beraksi untuk keberlanjutan bumi.
Jakarta: Aksi Generasi Iklim (AGI) 2025 resmi diluncurkan melalui kegiatan Sehari Bermain Bersama Anak. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama
Save the Children Indonesia.
Dalam sambutannya, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, menekankan bahwa
perubahan iklim telah memberi dampak signifikan bagi anak-anak.
“Banjir, kebakaran hutan, polusi udara—semua itu berdampak langsung pada anak-anak kita. Melalui AGI, kami ingin semua pihak sadar bahwa ini bukan hanya isu lingkungan, tapi juga isu masa depan anak,” jelasnya pada acara Aksi Generasi Iklim “Sehari Bermain Bersama Anak”, Sabtu, 26 Juli 2025.
Kampanye Aksi Generasi Iklim sendiri telah digagas sejak dua tahun lalu dan mulai dijalankan bersama Kemenko PMK pada 2024 di delapan provinsi. Tahun 2025, jangkauan AGI akan diperluas, terutama dengan menyasar satuan pendidikan dan pesantren agar pesannya bisa tersebar lebih luas dan terstruktur.
“Kami ingin membekali anak-anak dari sekolah dan pesantren agar lebih sadar dan aktif berpartisipasi. Mereka tidak hanya jadi objek, tapi subjek dalam menjaga bumi,” tambah Woro.
Sementara itu, Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save the Children Indonesia, menyatakan bahwa pendekatan melalui aktivitas bermain dipilih karena terbukti lebih efektif dalam menjangkau pemahaman anak-anak.
“Anak-anak adalah pihak yang paling terdampak dari krisis iklim. Dengan bermain, pemahaman bisa disampaikan secara lebih menyenangkan, dan yang terpenting lebih membekas,” ujarnya.
Dessy juga menegaskan pentingnya keterlibatan semua pihak, dari pemerintah hingga masyarakat, dalam menghadapi krisis iklim. Anak-anak tidak bisa dibebani tanggung jawab ini sendiri. Kolaborasi multipihak menjadi kunci agar dampak krisis tidak semakin memburuk.
“Kami berharap aksi-aksi yang kami lakukan akan lebih tajam, lebih mudah dipahami, dan mudah juga memberikan kesadaran kepada masyarakat,” pungkasnya.
Program “Sehari Bermain Bersama Anak” menjadi wujud nyata dari sinergi pemerintah, NGO, komunitas, dan forum anak nasional. Harapannya, AGI bisa menjadi tonggak penting dalam membentuk generasi masa depan yang tidak hanya sadar lingkungan, tetapi juga tangguh dan aktif beraksi untuk keberlanjutan bumi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)