Tenaga medis do RSD Wisma Atlet. Medcom.id/Sri Yanti Nainggolan
Tenaga medis do RSD Wisma Atlet. Medcom.id/Sri Yanti Nainggolan

Semangat Nakes Melawan Ketakutan Melayani di RSD Wisma Atlet

Nasional Virus Korona pandemi covid-19 Konvergensi MGN
Sri Yanti Nainggolan • 29 September 2020 02:41
Jakarta: Tenaga kesehatan (nakes) tetap semangat membantu pasien virus korona (covid-19) untuk sembuh, meski sempat ketakutan dan kewalahan. Nakes berperan penting di masa pandemi covid-19.
 
Defta Saputra, 24, menjadi perawat di ruang rawat inap lantai 17 tower 7 Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, Jakarta, sejak April 2020. Dia masuk pada gelombang keenam dengan bersama sekitar 30 tenaga kesehatan lainnya.
 
Pria asal Bengkulu itu tergerak menjadi relawan karena ingin membantu negara mengatasi wabah internasional ini. Bukan semata karena pekerjaan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"(Keinginan ini) bagian dari diri saya, itu saja yang saya lihat, daripada berdiam diri," kata Defta kepada Medcom.id, Sabtu, 26 September 2020.
 
Awalnya, dia mengaku sempat takut. Sebab, virus ini tak kelihatan dan masih dalam penelitian. Namun, dia meyakinkan diri agar tak gentar.
 
Defta juga merasa kesulitan. Dia harus menggunakan alat pelindung diri (APD) selama delapan jam sehari. Kepanasan dan kehausan selama bertugas.
 
"APD ada berbagai tipe, kalau kualitas bagus, keringat sedikit," kata dia.

Defta menyebut APD berasal dari donasi. Dia senang APD yang diberikan di RSD Wisma Atlet berkualitas bagus. Dia sudah terbiasa menggunakan APD.

Sempat kewalahan

Sistem kerja di RSD Wisma Atlet dibagi menjadi tiga sif dengan jatah libur sehari seminggu. Dengan jumlah pasien yang banyak, tak jarang para nakes kewalahan.
 
Defta sendiri menangani sekitar 10 pasien dalam satu lantai dengan kapasitas 50 pasien. Saat ini, terdapat sekitar 1.000 perawat di empat tower.
 
"Ada (yang kewalahan). Namun, mau bagaimana lagi. Kalau nakes kewalahan, siapa lagi, ini saja masih kurang (tenaga)," kata dia.
 
Enam bulan di RSD Wisma Atlet, Defta pernah mengalami jatuh mental. Hal itu dialami pada bulan pertama. Dia belum paham bagaimana harus berinteraksi dengan pasien. Belum lagi rasa takut ketularan.
 
"Kalau sekarang sudah sudah paham. Dulu karena sistem belum bagus, belum terstruktur," ucap dia.
 
Defta juga pernah kecapaian. Dia pun beristirahat selama dua pekan pada bulan kedua bertugas.

Defta mengaku berolahraga tiap hari selama 30 menit untuk menjaga kebugaran tubuh. Biasanya dia joging dan bermain futsal, memanfaatkan fasilitas yang ada di wisma tersebut.
 
"Kita juga diberi makanan bergizi, vitamin, dari pemerintah," ucap dia.

Semangat perjuangan dan pesan untuk masyarakat

Covid-19 juga memakan korban dari nakes. Defta berbelasungkawa atas hal itu.
 
"Mereka adalah pejuang sejati walau ada yang memandang sebelah mata. Perjuangan mereka tidak sia-sia dan kami masih berjuang," ujar dia.
 
Defta juga mengaku prihatin dengan kasus positif yang terus meningkat. Dia mengingatkan masyarakat agar selalu menjalankan pola hidup sehat dan protokol kesehatan, terutama memakai masker dan menjaga pola tidur.
 
"Karena (penyakit) ini tidak pandang usia atau anaknya siapa. Intinya taati protokol kesehatan, sering cuci tangan dan jaga pola tidur," kata dia.
 
(JMS)
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif