Jakarta: Pemimpin Redaksi (Pemred) Metro TV, Budiyanto memperoleh penghargaan Jurnalis Sahabat Anak Award dari Save the Children. Penyerahan penghargaan dilaksanakan di Antara Heritage, Rabu, 14 Januari 2026.
Penghargaan ini merupakan bagian dari perayaan 50 tahun Save the Children yang jatuh pada 15 Mei mendatang. CEO Save The Children, Dessy Kurwiany Ukar mengatakan penghargaan merupakan bentuk apresiasi kepada media yang telah menyuarakan isu pemenuhan hak anak.
“Kami ingin juga memberikan penghargaan kepada rekan-rekan jurnalis yang telah berkontribusi menyuarakan hak-hak anak, baik melalui peran strategisnya, maupun melalui karya jurnalistik yang konsisten dan perspektif terhadap hak-hak anak. Di usia kami yang 50 tahun, kami ingin mengajak rekan-rekan semua untuk terus berjalan bersama kami, tidak hanya memberitakan kebutuhan dan situasi yang dialami anak, tapi juga dampak positif ketangguhan dan harapan anak-anak Indonesia dari kerja-kerja pemenuhan kebutuhan hak-hak anak,” kata Dessydalam sambutannya Rabu, 14 Januari 2026.
Penghargaan diterima Head of Media Academy, Prihadi Adhie yang mewakili Pemred Metro TV, Budiyanto. Prihadi apresiasi yang diberikan oleh Save The Children ini sangat bermakna, karena Metro TV dinilai telah turut berkontribusi menyuarakan hak-hak anak melalui pemberitaan.
“Ini sangat berarti bagi kami yang menjadikan penghargaan ini menunjukkan bahwa media sangat berperang penting dalam menyuarakan hak-hak anak. Dan anak tidak lagi sebagai objek pemberitaan tapi juga sebagai subjek pemberitaan,” kata Prihadi.
“Dan semoga juga dengan penghargaan ini kita lebih dalam ataupun juga lebih mempertebal suara-suara anak tidak hanya di layar kaca tapi juga setiap kebijakan-kebijakan yang diberikan atau yang dikeluarkan oleh pemerintah, ataupun lembaga seperti Save the Children.”
Berbarengan dengan pemberian penghargaan digelar juga diskusi media bertajuk Hak Anak: Agenda Prioritas 2026. Dalam pemaparannya Save The Children menyoroti tentang anak-anak Indonesia yang kini menghadapi tantangan ganda, yaitu kecanduan digital dan krisis iklim.
Anak-anak semakin kecanduan semakin kecanduan digital. Data Save the Children mengungkap hampir 40% anak usia SMP menghabiskan waktu per hari di depan gawai, dengan puncak penggunaan terjadi pada jam 6 malam.
Meski begitu anak-anak sudah mengerti berbagai risiko di ruang digital, seperti penipuan, peretasan, pencurian dan
perundungan siber. Sayangnya, kesadaran ini tidak dibarengi dengan keterampilan untuk
merespons secara aman dan sehat.
"Anak-Anak tahu risiko di ruang digital, tapi mereka bingung harus berbuat apa. Literasi digital saja tidak cukup. Anak membutuhkan penguasaan kompetensi digital yang utuh, pendampingan orang tua, serta dukungan kesehatan mental yang memadai,” jelas Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save The Children.
Di saat yang bersamaan, anak-anak juga menghadapi krisis lain yang tak kalah mengkhawatirkan. Laporan Voluntary National Review SDG's Tahun 2025 menunjukan bahwa krisis iklim telah merenggut hak-hak anak. Dampak krisis iklim mengganggu pola makan dan kes menurunkan pendapatan keluarga, serta meningkatkan risiko perlindungan terutama dalam situasi bencana.
Jakarta: Pemimpin Redaksi (Pemred)
Metro TV, Budiyanto memperoleh penghargaan Jurnalis Sahabat Anak Award dari Save the Children. Penyerahan penghargaan dilaksanakan di Antara Heritage, Rabu, 14 Januari 2026.
Penghargaan ini merupakan bagian dari
perayaan 50 tahun Save the Children yang jatuh pada 15 Mei mendatang. CEO Save The Children, Dessy Kurwiany Ukar mengatakan penghargaan merupakan bentuk apresiasi kepada media yang telah menyuarakan isu pemenuhan hak anak.
“Kami ingin juga memberikan penghargaan kepada rekan-rekan jurnalis yang telah berkontribusi menyuarakan hak-hak anak, baik melalui peran strategisnya, maupun melalui karya jurnalistik yang konsisten dan perspektif terhadap hak-hak anak. Di usia kami yang 50 tahun, kami ingin mengajak rekan-rekan semua untuk terus berjalan bersama kami, tidak hanya memberitakan kebutuhan dan situasi yang dialami anak, tapi juga dampak positif ketangguhan dan harapan anak-anak Indonesia dari kerja-kerja pemenuhan kebutuhan hak-hak anak,” kata Dessydalam sambutannya Rabu, 14 Januari 2026.
Penghargaan diterima Head of Media Academy, Prihadi Adhie yang mewakili Pemred Metro TV, Budiyanto. Prihadi apresiasi yang diberikan oleh Save The Children ini sangat bermakna, karena Metro TV dinilai telah turut berkontribusi menyuarakan hak-hak anak melalui pemberitaan.
“Ini sangat berarti bagi kami yang menjadikan penghargaan ini menunjukkan bahwa media sangat berperang penting dalam menyuarakan hak-hak anak. Dan anak tidak lagi sebagai objek pemberitaan tapi juga sebagai subjek pemberitaan,” kata Prihadi.
“Dan semoga juga dengan penghargaan ini kita lebih dalam ataupun juga lebih mempertebal suara-suara anak tidak hanya di layar kaca tapi juga setiap kebijakan-kebijakan yang diberikan atau yang dikeluarkan oleh pemerintah, ataupun lembaga seperti Save the Children.”
Berbarengan dengan pemberian penghargaan digelar juga diskusi media bertajuk Hak Anak: Agenda Prioritas 2026. Dalam pemaparannya Save The Children menyoroti tentang anak-anak Indonesia yang kini menghadapi tantangan ganda, yaitu kecanduan digital dan krisis iklim.
Anak-anak semakin kecanduan semakin kecanduan digital. Data Save the Children mengungkap hampir 40% anak usia SMP menghabiskan waktu per hari di depan gawai, dengan puncak penggunaan terjadi pada jam 6 malam.
Meski begitu anak-anak sudah mengerti berbagai risiko di ruang digital, seperti penipuan, peretasan, pencurian dan
perundungan siber. Sayangnya, kesadaran ini tidak dibarengi dengan keterampilan untuk
merespons secara aman dan sehat.
"Anak-Anak tahu risiko di ruang digital, tapi mereka bingung harus berbuat apa. Literasi digital saja tidak cukup. Anak membutuhkan penguasaan kompetensi digital yang utuh, pendampingan orang tua, serta dukungan kesehatan mental yang memadai,” jelas Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save The Children.
Di saat yang bersamaan, anak-anak juga menghadapi krisis lain yang tak kalah mengkhawatirkan. Laporan Voluntary National Review SDG's Tahun 2025 menunjukan bahwa krisis iklim telah merenggut hak-hak anak. Dampak krisis iklim mengganggu pola makan dan kes menurunkan pendapatan keluarga, serta meningkatkan risiko perlindungan terutama dalam situasi bencana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)