Jakarta: Bisnis minuman teh buah Menantea, yang didirikan oleh YouTuber Jerome Polin bersama kakaknya, Jehian Sijabat, resmi mengakhiri perjalanannya. Seluruh gerai tutup secara pada 25 April 2026.
Pengumuman ini disampaikan melalui unggahan akun Instagram resmi perusahaan. Keputusan ini menandai berakhirnya sebuah jenama yang sempat berkembang sangat pesat sejak pertama kali diluncurkan pada April 2021.
Berikut adalah fakta-fakta mendalam di balik penutupan Menantea:
Ekspansi Masif Berbasis Popularitas
Sejak kemunculannya, Menantea langsung menggebrak pasar dengan memanfaatkan popularitas Jerome Polin. Dalam waktu singkat, bisnis ini berhasil membuka ratusan gerai di berbagai daerah melalui skema kemitraan (franchise). Strategi ini awalnya dianggap sukses besar karena mampu menarik minat banyak investor dan pelanggan dalam waktu singkat.
Keluhan Mitra dan Realita di Lapangan
Di balik pertumbuhan yang tampak gemilang, riak persoalan mulai muncul ke publik pada Maret 2023. Sejumlah mitra menyampaikan keluhan melalui media sosial X terkait proyeksi penjualan yang tidak sesuai dengan kondisi nyata.
Beberapa mitra mengaku telah mengeluarkan modal hingga ratusan juta rupiah, namun mendapati hasil yang jauh dari harapan. Bahkan, terdapat laporan mengenai gerai yang hanya mampu menjual beberapa cup per hari, yang membuat operasional menjadi tidak berkelanjutan.
Sorotan pada Margin Keuntungan dan Bahan Baku
Selain masalah penjualan, harga bahan baku dari pusat turut menjadi sorotan utama. Para mitra menilai harga bahan baku terlalu tinggi, sehingga berdampak pada tipisnya margin keuntungan yang didapatkan. Kondisi ini membuat para pelaku usaha sulit mencapai titik impas (Break Even Point), meskipun operasional harian tetap berjalan.
Baca Juga :
Gerai Menantea Jerome Polin Tutup Permanen, Kok Bisa?
Ketidakpastian Investor Equity Crowdfunding
Menantea juga sempat menarik perhatian karena melakukan penggalangan dana melalui skema equity crowdfunding di platform Bizhare. Seiring dengan banyaknya gerai yang mulai berguguran, para investor mulai mempertanyakan keberlanjutan bisnis serta potensi imbal hasil yang telah mereka tanamkan. Hal ini menambah tekanan publik terhadap transparansi pengelolaan dana di perusahaan tersebut.
Penutupan Permanen di April 2026 Akibat Kendala Internal
Setelah melalui upaya perbaikan selama dua tahun terakhir, pihak manajemen akhirnya mengambil keputusan pahit. Jehian Sijabat mengungkapkan bahwa Menantea menghadapi berbagai kendala internal yang kompleks, mulai dari lemahnya audit keuangan, masalah dengan pemasok, hingga indikasi kecurangan internal.
Kisah Menantea menjadi pelajaran berharga dalam dunia bisnis waralaba di Indonesia. Popularitas besar di awal dan dukungan figur publik memang memberikan daya dorong yang kuat, namun manajemen internal yang solid dan adaptasi terhadap dinamika pasar tetap menjadi kunci utama untuk bertahan dalam jangka panjang.
(Fany Wirda Putri)
Jakarta: Bisnis minuman teh buah Menantea, yang didirikan oleh YouTuber
Jerome Polin bersama kakaknya, Jehian Sijabat, resmi mengakhiri perjalanannya. Seluruh gerai tutup secara pada 25 April 2026.
Pengumuman ini disampaikan melalui unggahan akun Instagram resmi perusahaan. Keputusan ini menandai berakhirnya sebuah jenama yang sempat berkembang sangat pesat sejak pertama kali diluncurkan pada April 2021.
Berikut adalah fakta-fakta mendalam di balik
penutupan Menantea:
Ekspansi Masif Berbasis Popularitas
Sejak kemunculannya, Menantea langsung menggebrak pasar dengan memanfaatkan popularitas Jerome Polin. Dalam waktu singkat, bisnis ini berhasil membuka ratusan gerai di berbagai daerah melalui skema kemitraan (franchise). Strategi ini awalnya dianggap sukses besar karena mampu menarik minat banyak investor dan pelanggan dalam waktu singkat.
Keluhan Mitra dan Realita di Lapangan
Di balik pertumbuhan yang tampak gemilang, riak persoalan mulai muncul ke publik pada Maret 2023. Sejumlah mitra menyampaikan keluhan melalui media sosial X terkait proyeksi penjualan yang tidak sesuai dengan kondisi nyata.
Beberapa mitra mengaku telah mengeluarkan modal hingga ratusan juta rupiah, namun mendapati hasil yang jauh dari harapan. Bahkan, terdapat laporan mengenai gerai yang hanya mampu menjual beberapa cup per hari, yang membuat operasional menjadi tidak berkelanjutan.
Sorotan pada Margin Keuntungan dan Bahan Baku
Selain masalah penjualan, harga bahan baku dari pusat turut menjadi sorotan utama. Para mitra menilai harga bahan baku terlalu tinggi, sehingga berdampak pada tipisnya margin keuntungan yang didapatkan. Kondisi ini membuat para pelaku usaha sulit mencapai titik impas (Break Even Point), meskipun operasional harian tetap berjalan.
Ketidakpastian Investor Equity Crowdfunding
Menantea juga sempat menarik perhatian karena melakukan penggalangan dana melalui skema equity crowdfunding di platform Bizhare. Seiring dengan banyaknya gerai yang mulai berguguran, para investor mulai mempertanyakan keberlanjutan bisnis serta potensi imbal hasil yang telah mereka tanamkan. Hal ini menambah tekanan publik terhadap transparansi pengelolaan dana di perusahaan tersebut.
Penutupan Permanen di April 2026 Akibat Kendala Internal
Setelah melalui upaya perbaikan selama dua tahun terakhir, pihak manajemen akhirnya mengambil keputusan pahit. Jehian Sijabat mengungkapkan bahwa Menantea menghadapi berbagai kendala internal yang kompleks, mulai dari lemahnya audit keuangan, masalah dengan pemasok, hingga indikasi kecurangan internal.
Kisah Menantea menjadi pelajaran berharga dalam dunia bisnis waralaba di Indonesia. Popularitas besar di awal dan dukungan figur publik memang memberikan daya dorong yang kuat, namun manajemen internal yang solid dan adaptasi terhadap dinamika pasar tetap menjadi kunci utama untuk bertahan dalam jangka panjang.
(
Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)