Penutupan ini menjadi akhir dari perjalanan Menantea yang sempat berkembang pesat sejak pertama kali diluncurkan pada 2021. Menantea berdiri pada April 2021 dengan mengandalkan popularitas Jerome Polin. Dalam waktu singkat, bisnis ini berhasil membuka ratusan gerai di berbagai daerah melalui skema kemitraan atau franchise.
| Baca juga: Bisnis Minuman Milik Jerome Polin Bikin Rugi, Mitra Usaha Komplain |
Namun, di balik ekspansi cepat tersebut, sejumlah persoalan mulai muncul. Pada Maret 2023, keluhan dari mitra mencuat di media sosial, terutama di platform X. Mitra mengeluhkan proyeksi penjualan yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
Beberapa mitra mengaku telah mengeluarkan modal hingga ratusan juta rupiah, tetapi tidak mendapatkan hasil yang sebanding. Bahkan, ada gerai yang disebut hanya mampu menjual beberapa cup per hari.
Selain itu, harga bahan baku dari pusat juga menjadi sorotan karena dianggap terlalu tinggi dan berdampak pada tipisnya margin keuntungan.
Menanggapi hal tersebut, Jehian Sijabat selaku CEO sempat memberikan klarifikasi. Ia mengakui adanya kendala dalam komunikasi dan penurunan performa di sejumlah gerai.
Manajemen saat itu menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk perbaikan strategi pemasaran, peningkatan transparansi, serta pendampingan bagi mitra yang mengalami penurunan kinerja.
Di sisi lain, Menantea juga sempat menjadi perhatian karena melakukan penggalangan dana melalui skema equity crowdfunding di platform Bizhare. Seiring dengan banyaknya gerai yang tutup, investor mulai mempertanyakan keberlanjutan bisnis dan potensi imbal hasil.
Dalam pernyataan terpisah, pihak manajemen mengakui adanya kekurangan dalam pengelolaan bisnis. Jehian menyebut pihaknya kurang melakukan riset terhadap mitra bisnis serta tidak rutin melakukan audit internal.
Ia juga mengungkapkan bahwa pengalaman yang terbatas dalam menjalankan bisnis menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja perusahaan.
Penutupan Menantea menjadi catatan penting di tengah maraknya bisnis berbasis popularitas figur publik. Pertumbuhan yang cepat dinilai perlu diimbangi dengan pengelolaan operasional yang matang agar dapat bertahan dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News