Pilot Batik Air yang bertugas menjemput WNI di Wuhan, Tiongkok, Kapten Destyo Usodo (kanan), dan salah seorang pramugasi Batik Air, Indah Nurfitri Djufri (kiri). Foto: Achmad Zulfikar Fazli/Medcom.id
Pilot Batik Air yang bertugas menjemput WNI di Wuhan, Tiongkok, Kapten Destyo Usodo (kanan), dan salah seorang pramugasi Batik Air, Indah Nurfitri Djufri (kiri). Foto: Achmad Zulfikar Fazli/Medcom.id

Cerita Pilot dan Pramugari Penjemput Ratusan WNI di Wuhan

Nasional Virus Korona Rangkuman Nasional
Achmad Zulfikar Fazli • 17 Februari 2020 22:02
Jakarta: Pesawat Airbus 330-300CEO registrasi PK-LDY milik Batik Air diterbangkan untuk menjemput ratusan warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Misi kemanusiaan ini dilakukan untuk mencegah paparan virus korona kepada WNI.
 
Pilot Batik Air, Kapten Destyo Usodo, menceritakan proses penjemputan 238 WNI dari Wuhan. Mulanya, pihak Batik Air menugaskan Destyo bersama kru lainnya untuk memulangkan ratusan WNI yang terisolasi di Negeri Tirai Bambu. Tanpa pikir panjang, Destyo menyanggupi perintah tersebut.
 
"Ini perintah ya, assignment dari manajemen untuk melaksanakan tugas ini. Jadi saat itu ada assignment Destyo Usodo kami tugaskan untuk melakukan misi kemanusiaan dan saat itu siap saya laksanakan," ujar Destyo kepada Medcom.id dan Media Indonesia di Gedung Metro TV, Jakarta, Senin, 17 Februari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pesawat yang dikemudikan Destyo lepas landas dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pukul 13.00 waktu setempat (Waktu Indonesia Barat, GMT+ 07) dan dijadwalkan tiba di Bandar Udara Internasional Tianhe Wuhan, pada pukul 19.00 waktu setempat (Time in Wuhan, Hubei, China Standard Time, GMT+ 08).
 
Destyo dan kru lainnya pun harus memakai alat pelindung diri sebagai bentuk mitigasi untuk mencegah penularan virus korona. Dia kemudian memakai masker serta sarung tangansesuai ketentuan yang disepakati bersama.
 
Destyo mengatakan area kru pesawat sebetulnya sudah cukup aman meski tidak menggunakan alat pelindung diri. Pasalnya, pesawat dilengkapi alat High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) yang menjamin hingga 99,7 persen virus apa pun tak akan masuk cabin, baik itu mers, sars, maupun korona.
 
"Semua sudah dijamin jadi aman. Tapi tadi mitigasi tetap harus pakai untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan," ucap dia.
 
Cerita Pilot dan Pramugari Penjemput Ratusan WNI di Wuhan
Pilot Batik Air yang bertugas menjemput WNI di Wuhan, Tiongkok, Kapten Destyo Usodo. Foto: Deni Fauzan/Medcom.id
 
Sesampainya di Wuhan, Destyo tak bisa langsung mengangkut para WNI kembali ke Indonesia. Pasalnya, para WNI harus menjalani beberapa persyaratan seperti perizinan di Imigrasi dan tes kesehatan sebelum pulang ke Tanah Air.
 
Destyo dan kru lainnya tak hanya diam menunggu para WNI. Dia meragakan kembali proses evakuasi hingga akhirnya para WNI masuk pesawat. "Begitu pintu dibuka semua sudah siap dengan alat pelindung diri."
 
Penerbangan bernomor ID-8619 rute Bandar Udara Internasional Tianhe Wuhan tujuan Bandar Udara Internasional Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau (BTH) berangkat pada pukul 04.30 waktu setempat (Time in Wuhan, Hubei, China Standard Time, GMT+ 08) dan sudah mendarat normal di Batam pukul 08.30 WIB (Waktu Indonesia Barat, GMT+ 07) pada Minggu, 2 Februari 2020.
 
Destyo mengaku bangga bisa menjalankan misi kemanusiaan ini. Dari ratusan pilot dengan kompetensi yang sama, dia bersama kru lainnya dipilih untuk mengevakuasi WNI di Wuhan.

Perasaan Waswas

Destyo mengaku sempat khawatir saat ditugaskan untuk membawa pulang WNI dari Wuhan. Pasalnya, kota tersebut merupakan pusat penyebaran virus korona.
 
"Namanya juga manusia kita ke sana daerah yang terisolasi, lock down, dan virusnya begitu ganas belum ada obat, tentu khawatir ya, takut pasti," ujar Destyo.
 
Namun, dia menanamkan tiga hal pada dirinya dan keluarga sebelum terbang ke Wuhan. Pertama, dia berdoa untuk meminta perlindungan.
 
"Yang kedua, tentunya yang kita bawa adalah WNI yang sehat, dan itu sudah dijamin pemerintah RRT," tutur dia.
 
Ketiga, ada ukuran keamanan sehingga segala persiapan sudah dilakukan untuk mencegah tertular virus korona. Pihak Wuhan juga betul-betul memeriksa secara ketat WNI yang akan pulang ke Indonesia.
 
"Jadi sebelum masuk pesawat mereka di-screening kan. Satu, dua, tiga, dan terakhir sebelum masuk ke pesawat ada lagi tim kesehatan dari departemen kesehatan untuk melihat mereka ada gejala korona atau tidak. Jadi secure," ucap dia.

Meyakini Diri dan Keluarga

Salah seorang pramugasi Batik Air yang bertugas menjemput WNI di Wuhan, Indah Nurfitri Djufri, juga mengaku sempat memiliki rasa khawatir saat tahu akan ditugaskan ke wilayah penyebaran virus korona. Namun, dia mencoba meyakini diri untuk menerima tugas misi kemanusiaan ini.
 
"Wajar takut tapi kita langsung keingat kembali kata dari Pak Budi (Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan dr Budi Sylvana) juga bilang ini yang kita bawa orang sehat kok, enggak sakit sama sekali. Jadi oh iya kita sama-sama sehat, di sini jadi saling menguatkan," ujar Indah.
 
Cerita Pilot dan Pramugari Penjemput Ratusan WNI di Wuhan
Salah seorang pramugasi Batik Air yang bertugas menjemput WNI di Wuhan, Indah Nurfitri Djufri (kiri). Foto: Deni Fauzan/Medcom.id
 
Dia kemudian langsung menelepon orang tuanya untuk mengabarkan tugas kemanusiaan ini. Awalnya, kata Indah, sang ibu sempat kaget dan takut. Dia pun coba menyakinkan sang ibu untuk tetap bisa bertugas menjemput WNI di Wuhan.
 
"Saya telepon pertama kali mama, saya bilang 'ma saya dapat tugas ke ini (Wuhan)', mama kaget, bilang 'ah yang benar nih? ini benar, apa becanda?' kaget. Terus bilang, 'kak emang enggak bisa diganti orangnya?' masih takut. Tapi saya coba yakinin-yakinin, yang kita bawa ini orang sehat kok, mau pulang juga ketemu keluarga, jadi mohon doa saja. Ya sudah bismillah, akhirnya berangkat," ujar dia.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif