Hasil Investigasi KNKT Bukan untuk Bukti Hukum

Kautsar Widya Prabowo 28 November 2018 21:17 WIB
Lion Air Jatuh
Hasil Investigasi KNKT Bukan untuk Bukti Hukum
Suasana konferensi pers terkait hasil investigasi jatuhnya Lion Air PK-LQP di Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo
Jakarta: Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menjelaskan, hasil investigasi pesawat Lion Air PK- LQP yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, tidak bisa dijadikan alat bukti hukum. Hal tersebut terkait beberapa keluarga korban yang berencana menggugat perusahan pesawat Boeing itu.

Kepala Sub Komite Penerbangan KNKT Kapten Nurcahyo Utomo menjelaskan, hasil investigasi tidak dapat dijadikan bukti hukum mengacu pada Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Pasalnya, jika digunakan tanpa persetujuan KNKT, dikhawatirkan malah akan menimbulkan perbedaan persepsi.

"Apabila mau melakukan investigasi di pengadilan, ya mungkin penyidiknya mencari data sendiri, tidak boleh minta data KNKT, misal data CVR, itu tidak boleh," ujarnya di Gedung KNKT, Jakarta Pusat, Rabu, 28 November 2018.


Dalam laporan yang telah disusun sudah diimbau dalam halaman utama, bahwa laporan digunakan untuk kepentingan keselamatan. "Apabila digunakan untuk tujuan lain maka mungkin akan miss leading, jadi tidak boleh digunakan," imbuhnya.

Perlu diketahui UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, pasal 359 jelas tercantum, hasil investigasi tidak dapat digunakan sebagai alat bukti dalam proses peradilan. Kemudian, hasil investigasi yang bukan digolongkan sebagai informasi rahasia, dapat diumumkan kepada masyarakat.

Baca: Dua Rekomendasi KNKT untuk Lion Air PK-LQP

Sebelumnya, Keluarga korban PK-LQP dari almarhum Dr. Pratama melalui Firma hukum Colson Hicks Eidson dan BartlettChen LLC menggugat The Boeing Company selaku produsen pesawat Boeing 737 MAX 8 yang jatuh pada tanggal 29 Oktober 2018 di Teluk Karawang. Gugatan itu diajukan ke pengadilan Amerika Serikat.

“Gugatan ini kami ajukan atas nama klien kami yaitu orang tua dari almarhum Dr. Rio Nanda Pratama yang tewas ketika pesawat Boeing 737 MAX 8 jatuh ke laut. Alm Dr. Pratama adalah seorang dokter muda dalam perjalan pulang dari sebuah konferensi di Jakarta dan hendak menikah pada tanggal 11 Nopember 2018,” kata Curtis Miner dari Colson Hicks Eidson dalam keterangan tertulis di Jakarta. 

Baca: Lion PK-LQP Alami 6 Kali Kerusakan

Terkait dengan investigasi kecelakaan ini, Curtis Miner menyatakan, sesuai dengan perjanjian internasional, pihak penyelidik dari Indonesia dilarang untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atau siapa yang bersalah. Mereka hanya diizinkan untuk membuat rekomendasi keselamatan untuk industri penerbangan di masa depan.  

"Inilah sebabnya mengapa tindakan hukum atas nama keluarga korban harus dilakukan. Investigasi oleh lembaga pemerintah biasanya tidak akan memutuskan siapa yang bersalah dan tidak menyediakan ganti rugi yang adil kepada para keluarga korban. Inilah pentingnya gugatan perdata pribadi dalam tragedi seperti ini,” kata Curtis.





(DMR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id