Jakarta: Mengumandangkan takbir merupakan salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk menyambut Hari Raya Idulfitri. Gema takbir yang berkumandang sejak terbenamnya matahari di akhir Ramadan hingga menjelang salat Id menjadi simbol pengagungan kepada Allah SWT atas kemenangan melawan hawa nafsu.
Gema takbir Idulfitri umumnya mulai berkumandang sesaat setelah penetapan 1 Syawal hingga menjelang pelaksanaan salat Id keesokan paginya. Mengutip informasi dari NU Online, terdapat dua klasifikasi dalam pembacaan takbir, yakni takbir muqayyad dan takbir mursal.
Takbir muqayyad merupakan lantunan takbir yang dikhususkan untuk dibaca setiap selesai melaksanakan salat, baik wajib maupun sunah. Sebaliknya, takbir mursal memiliki sifat yang lebih fleksibel karena dapat dikumandangkan kapan saja dan di mana saja tanpa terikat waktu salat.
Mengutip penjelasan Imam An-Nawawi dalam kitab fenomenalnya, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, terdapat panduan mengenai bacaan takbir Idulfitri. Teks inilah yang kemudian menjadi standar dan umum digunakan oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia hingga saat ini.
Bacaan Takbir Idulfitri (Versi Pendek)
Ini adalah lafal yang paling umum dikumandangkan secara berulang-ulang:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil-hamd.
Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah."
Baca Juga :
Ragam Amalan Sunnah Hari Raya Idulfitri Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW
Bacaan Takbir Idulfitri (Versi Lengkap)
Setelah membaca takbir pendek sebanyak tiga kali, biasanya disambung dengan lafal pujian yang lebih panjang:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Allāhu akbar kabīrā, wal-hamdu lillāhi katsīrā, wa subhānallāhi bukratan wa ashīlā. Lā ilāha illallāhu wa lā na’budu illā iyyāhu mukhlishīna lahud-dīna wa law karihal-kāfirūn. Lā ilāha illallāhu wahdah, shadaqa wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa a’azza jundah, wa hazamal-ahzāba wahdah. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Artinya: "Allah Maha Besar dengan segala kebesaran-Nya. Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya. Dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang. Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, dengan memurnikan agama bagi-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya. Tiada Tuhan selain Allah Yang Esa. Dia memenuhi janji-Nya, membantu hamba-Nya, memuliakan bala tentara-Nya, dan mengalahkan musuh-musuh-Nya dengan keesaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar."
Sesuai tuntunan syariat, takbir Idulfitri mulai dikumandangkan sejak malam Lebaran (setelah masuk waktu Maghrib) hingga imam berdiri untuk melaksanakan salat Id pada keesokan paginya. Anda bisa melantunkannya di masjid, musala, rumah, bahkan saat dalam perjalanan.
Selain sebagai bentuk syiar Islam, bertakbir di hari raya berfungsi untuk menghidupkan syiar agama di tengah masyarakat dan sebagai wujud rasa syukur hamba yang telah berhasil menyelesaikan ibadah puasa sebulan penuh.
(Fany Wirda Putri)
Jakarta: Mengumandangkan
takbir merupakan salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk menyambut Hari Raya Idulfitri. Gema takbir yang berkumandang sejak terbenamnya matahari di akhir Ramadan hingga menjelang salat Id menjadi simbol pengagungan kepada Allah SWT atas kemenangan melawan hawa nafsu.
Gema takbir Idulfitri umumnya mulai berkumandang sesaat setelah penetapan 1 Syawal hingga menjelang pelaksanaan salat Id keesokan paginya. Mengutip informasi dari NU Online, terdapat dua klasifikasi dalam pembacaan takbir, yakni takbir muqayyad dan takbir mursal.
Takbir muqayyad merupakan lantunan takbir yang dikhususkan untuk dibaca setiap selesai melaksanakan salat, baik wajib maupun sunah. Sebaliknya, takbir mursal memiliki sifat yang lebih fleksibel karena dapat dikumandangkan kapan saja dan di mana saja tanpa terikat waktu salat.
Mengutip penjelasan Imam An-Nawawi dalam kitab fenomenalnya, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, terdapat panduan mengenai bacaan takbir Idulfitri. Teks inilah yang kemudian menjadi standar dan umum digunakan oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia hingga saat ini.
Bacaan Takbir Idulfitri (Versi Pendek)
Ini adalah lafal yang paling umum dikumandangkan secara berulang-ulang:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil-hamd.
Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah."
Bacaan Takbir Idulfitri (Versi Lengkap)
Setelah membaca takbir pendek sebanyak tiga kali, biasanya disambung dengan lafal pujian yang lebih panjang:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Allāhu akbar kabīrā, wal-hamdu lillāhi katsīrā, wa subhānallāhi bukratan wa ashīlā. Lā ilāha illallāhu wa lā na’budu illā iyyāhu mukhlishīna lahud-dīna wa law karihal-kāfirūn. Lā ilāha illallāhu wahdah, shadaqa wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa a’azza jundah, wa hazamal-ahzāba wahdah. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Artinya: "Allah Maha Besar dengan segala kebesaran-Nya. Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya. Dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang. Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, dengan memurnikan agama bagi-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya. Tiada Tuhan selain Allah Yang Esa. Dia memenuhi janji-Nya, membantu hamba-Nya, memuliakan bala tentara-Nya, dan mengalahkan musuh-musuh-Nya dengan keesaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar."
Sesuai tuntunan syariat, takbir Idulfitri mulai dikumandangkan sejak malam Lebaran (setelah masuk waktu Maghrib) hingga imam berdiri untuk melaksanakan salat Id pada keesokan paginya. Anda bisa melantunkannya di masjid, musala, rumah, bahkan saat dalam perjalanan.
Selain sebagai bentuk syiar Islam, bertakbir di hari raya berfungsi untuk menghidupkan syiar agama di tengah masyarakat dan sebagai wujud rasa syukur hamba yang telah berhasil menyelesaikan ibadah puasa sebulan penuh.
(
Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)