Jakarta: Direktur Eksekutif Tenggara Strategics, Riyadi Suparno mengungkapkan waste to energy atau pengolahan sampah jadi energi merupakan solusi masalah sampah nasional.
"Dengan produksi sampah di kota-kota besar yang sudah di atas 1.000 ton per hari, hampir tidak ada pilihan lain selain waste to energy untuk menyelesaikan persoalan ini," kata Riyadi dalam konferensi pers paparan hasil kajian "Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik" di Jakarta, Rabu 21 Januari 2026.
Riyadi menyebut timbulan sampah di Indonesia diperkirakan mencapai hampir 57 juta ton per tahun. Dan lebih dari 66 persen di antaranya masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Krisis sampah ini bisa menimbulkan masalah lingkungan, tetapi juga kesehatan. Mulai dari peningkatan penyakit pernapasan, diare, hingga risiko cacat lahir di wilayah sekitar TPA. Ini seperti yang dipaparkan Senior Researcher Tenggara Strategics Intan Salsabila Firman.
Ia menambahkan pengalaman Indonesia dalam pengembangan PLTSa sebelumnya masih menyisakan banyak persoalan, terutama dari sisi pembiayaan, pemilihan teknologi, dan tata kelola lingkungan.
"Pelajaran dari PLTSa Benowo dan Putri Cempo menunjukkan pentingnya teknologi yang matang, pengelolaan limbah yang ketat, serta kepastian pembiayaan jangka panjang," ungkap Intan.
Penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 kata Intan membawa perbaikan signifikan, antara lain dengan kenaikan harga beli listrik Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) oleh PLN menjadi 20 sen dolar AS per kilowatt jam, penghapusan skema tipping fee, serta pemberian prioritas must-dispatch ke jaringan listrik nasional.
Baca Juga :
Tenggara Strategics Beri 4 Rekomendasi untuk Proyek Sulap Sampah Jadi Listrik
Dalam pemaparannya Intan menjelaskan rekomendasi teknologi untuk pelaksanaan proyek
PSEL yang efektif dan berkelanjutan. Tenggara Strategics merekomendasikan penggunaan insinerator atau mesin pembakar limbah berteknologi maju yang telah terbukti di berbagai negara, dengan pengendalian emisi dan pengelolaan abu sesuai standar lingkungan.
Dari sisi teknologi, Tenggara Strategics merekomendasikan penggunaan insinerator dengan teknologi termutakhir sesuai dengan perkembangan teknologi yang ramah lingkungan serta sesuai dengan jenis sampah yang akan diolah.
“Jangan sampai karakteristik sampah di Indonesia yang beragam dikasih teknologi yang sampahnya harus homogen. Itu nanti menghambat efisiensi, revenuenya kurang buat badan usahanya nanti juga sudah penanganan sampah di Indonesia,” bebernya.
Jakarta: Direktur Eksekutif Tenggara Strategics, Riyadi Suparno mengungkapkan
waste to energy atau pengolahan sampah jadi energi merupakan solusi masalah sampah nasional.
"Dengan produksi sampah di kota-kota besar yang sudah di atas 1.000 ton per hari, hampir tidak ada pilihan lain selain waste to energy untuk menyelesaikan persoalan ini," kata Riyadi dalam konferensi pers paparan hasil kajian "Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik" di Jakarta, Rabu 21 Januari 2026.
Riyadi menyebut timbulan sampah di Indonesia diperkirakan mencapai hampir 57 juta ton per tahun. Dan lebih dari 66 persen di antaranya masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Krisis sampah ini bisa menimbulkan masalah lingkungan, tetapi juga kesehatan. Mulai dari peningkatan penyakit pernapasan, diare, hingga risiko cacat lahir di wilayah sekitar TPA. Ini seperti yang dipaparkan Senior Researcher Tenggara Strategics Intan Salsabila Firman.
Ia menambahkan pengalaman Indonesia dalam pengembangan
PLTSa sebelumnya masih menyisakan banyak persoalan, terutama dari sisi pembiayaan, pemilihan teknologi, dan tata kelola lingkungan.
"Pelajaran dari PLTSa Benowo dan Putri Cempo menunjukkan pentingnya teknologi yang matang, pengelolaan limbah yang ketat, serta kepastian pembiayaan jangka panjang," ungkap Intan.
Penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 kata Intan membawa perbaikan signifikan, antara lain dengan kenaikan harga beli listrik Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) oleh PLN menjadi 20 sen dolar AS per kilowatt jam, penghapusan skema tipping fee, serta pemberian prioritas must-dispatch ke jaringan listrik nasional.
Dalam pemaparannya Intan menjelaskan rekomendasi teknologi untuk pelaksanaan proyek
PSEL yang efektif dan berkelanjutan. Tenggara Strategics merekomendasikan penggunaan insinerator atau mesin pembakar limbah berteknologi maju yang telah terbukti di berbagai negara, dengan pengendalian emisi dan pengelolaan abu sesuai standar lingkungan.
Dari sisi teknologi, Tenggara Strategics merekomendasikan penggunaan insinerator dengan teknologi termutakhir sesuai dengan perkembangan teknologi yang ramah lingkungan serta sesuai dengan jenis sampah yang akan diolah.
“Jangan sampai karakteristik sampah di Indonesia yang beragam dikasih teknologi yang sampahnya harus homogen. Itu nanti menghambat efisiensi, revenuenya kurang buat badan usahanya nanti juga sudah penanganan sampah di Indonesia,” bebernya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)