Jakarta: Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menyebut pencemaran udara di Jakarta menurun signifikan selama masa physical distancing (jaga jarak fisik). Penurunan terjadi sejak 26 Maret 2020-4 April 2020.
"Dari 16 Maret-26 Maret itu relatif stagnan meskipun ada penurunan tipis untuk 10 hari pertama physical distancing. Kemudian dari 26 Maret sampai sekarang lebih drastis lagi," kata Direktur KPBB Ahmad Safrudin kepada Medcom.id, Sabtu, 4 April 2020.
Safrudin menyebut kualitas udara Ibu Kota sudah dalam kategori baik. Pada awal penerapan physical distancing, kualitas udara Jakarta masih tergolong tidak sehat.
"Kan level kategori kualitas udara dari baik, di atasnya sedang, kemudian pencemaran udara, tidak sehat, sangat tidak sehat, terakhir itu berbahaya," ujar dia.
Menurut dia, minimnya aktivitas masyarakat selama masa physical distancing membuat kualitas udara semakin bersih. Penggunaan kendaraan bermotor di Ibu Kota juga berkurang.
"Jadi dilihat di jalanan rata-rata penurunan traffic kendaraan bermotor itu sekitar 95 persen. Praktis tinggal sekitar 5 persen, itulah yang menyebabkan turun drastis itu," ucap Safrudin.
Baca: Polusi Udara Jakarta Masih Tinggi Saat Awal Physical Distancing
Berdasarkan data dari airvisual, Sabtu, 4 April 2020, pukul 15.00 WIB, Jakarta menempati urutan ke-18 sebagai kota dengan polusi udara buruk di dunia.
Indeks kualitas udara berada pada angka 105 atau setara Particulate Matter (PM) 2.5 dengan konsentrasi polutan 37.2 µg/m³. Artinya, kondisi ini tidak sehat bagi kelompok sensitif. Namun, indeks kualitas udara yang dicatat airvisual terus berubah dengan cepat.
Jakarta: Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menyebut pencemaran udara di Jakarta menurun signifikan selama masa
physical distancing (jaga jarak fisik). Penurunan terjadi sejak 26 Maret 2020-4 April 2020.
"Dari 16 Maret-26 Maret itu relatif stagnan meskipun ada penurunan tipis untuk 10 hari pertama
physical distancing. Kemudian dari 26 Maret sampai sekarang lebih drastis lagi," kata Direktur KPBB Ahmad Safrudin kepada
Medcom.id, Sabtu, 4 April 2020.
Safrudin menyebut kualitas udara Ibu Kota sudah dalam kategori baik. Pada awal penerapan
physical distancing, kualitas udara Jakarta masih tergolong tidak sehat.
"Kan level kategori kualitas udara dari baik, di atasnya sedang, kemudian pencemaran udara, tidak sehat, sangat tidak sehat, terakhir itu berbahaya," ujar dia.
Menurut dia, minimnya aktivitas masyarakat selama masa
physical distancing membuat kualitas udara semakin bersih. Penggunaan kendaraan bermotor di Ibu Kota juga berkurang.
"Jadi dilihat di jalanan rata-rata penurunan
traffic kendaraan bermotor itu sekitar 95 persen. Praktis tinggal sekitar 5 persen, itulah yang menyebabkan turun drastis itu," ucap Safrudin.
Baca: Polusi Udara Jakarta Masih Tinggi Saat Awal Physical Distancing
Berdasarkan data dari
airvisual, Sabtu, 4 April 2020, pukul 15.00 WIB, Jakarta menempati urutan ke-18 sebagai kota dengan polusi udara buruk di dunia.
Indeks kualitas udara berada pada angka 105 atau setara
Particulate Matter (PM) 2.5 dengan konsentrasi polutan 37.2 µg/m³. Artinya, kondisi ini tidak sehat bagi kelompok sensitif. Namun, indeks kualitas udara yang dicatat
airvisual terus berubah dengan cepat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AZF)