Ilustrasi: Suasana Jalan Jenderal Sudirman-Bundaran Semanggi dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti polusi Jakarta. MI/Ramdani
Ilustrasi: Suasana Jalan Jenderal Sudirman-Bundaran Semanggi dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti polusi Jakarta. MI/Ramdani

Polusi Udara Jakarta Masih Tinggi Saat Awal Physical Distancing

Nasional Virus Korona polusi udara
Fachri Audhia Hafiez • 04 April 2020 15:27
Jakarta: Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) mencatat kualitas udara di Jakarta belum membaik saat awal penerapan physical distancing (jaga jarak fisik) akibat penyebaran virus korona (covid-19) pada 16-25 Maret 2020. Udara Ibu Kota masih dalam kategori tidak sehat.
 
"Kualitas udara masih pada kategori tidak sehat yaitu dengan konsentrasi Particulate Matter (PM) 2.5 rata-rata 44.55 µg/m3 selama 10 hari pelaksanaan social atau physical distancing," kata Direktur KPBB Ahmad Safrudin kepada Medcom.id, Sabtu, 4 April 2020.
 
Safrudin mengatakan pencemaran udara di Jakarta kini menurun tipis. Safrudin menilai kualitas udara Jakarta semakin membaik jika physical distancing diterapkan secara disiplin.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Diikuti pelarangan kendaraan penumpang, pribadi dan umum tanpa urgency/emergency yang dapat dipertanggungjawabkan, melintas di jalan raya, penurunan pencemaran udara ini akan efektif dan mampu mencapai kualitas udara baik," ujar Safrudin.
 
Safrudin mengungkapkan, pencemaran udara yang terjadi di Jakarta saat ini akibat paparan dari industri di Jabodetabek. Beberapa industri tetap berproduksi meski ada penurunan aktivitas akibat physical distancing, termasuk pabrik semen di kawasan Bogor, Jawa Barat.
 
Menurut dia, coal-fired power plant dan diesel power plant yang ada di Pulau Jawa juga menjadi salah satu penyebab pencemaran udara di Ibu Kota. Terutama yang berada di sekitar Cilegon dan Tangerang, Banten.
 
"Masih beroperasinya sebagian pabrikan di DKI Jakarta di mana 33 persen energi pabrik masih menggunakan bahan bakar batu bara, dan ada indikasi 7,26 persen PM2.5 berasal dari pembakaran batu bara," ujar Safrudin.
 
Baca: Jakarta Posisi Ke-10 Kota Terpolusi
 
Kegiatan loading/unloading kapal-kapal di Pantai Utara DKI Jakarta, terutama Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Batu bara Marunda juga menjadi pemicu pencemaran udara. Karena kapal-kapal tersebut berbahan bakar marine fuel dengan kadar belerang di atas 10 ribu particle per milion (ppm) yang menjadi pemicu pencemaran udara.
 
Safrudin menilai peningkatan kecepatan kendaraan di Jabodetabek akibat penurunan kemacetan juga memengaruhi kualitas udara Jakarta. Karena dapat meningkatkan exposure road dust (debu jalanan).
 
"Potensi paparan debu jalanan ini berkisar antara 30-100 gram/m25, tergantung pada kondisi bersih tidaknya jalan raya dari debu, pasir, tanah, lumpur, serta material lain," ujar Safrudin.
 
Safrudin menjelaskan pencemaran udara masih akan tinggi selama masyarakat belum disiplin dalam menjalankan physical distancing. Aparat hukum juga harus bisa bertindak tegas untuk memastikan penerapan physical distancing berjalan sempurna.
 
"Perlu isolasi total, termasuk terhadap lalu lintas kendaraan bermotor yang dimaksudkan untuk menghentikan proses penularan covid-19, yang kemudian memberikan manfaat ganda dalam menghentikan paparan debu jalanan dan emisi lainnya," jelas Safrudin.
 

(AZF)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif