Ribka Tjiptaning Sentil Menaker dan Kepala BNP2TKI
Ilustrasi TKI. Foto: Antara/Muhammad Iqbal
Jakarta: Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Sosial dan Penanggulangan Bencana Ribka Tjiptaning geram kasus kekerasan terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terus berulang. Kasus yang pernah terjadi terkesan tak dijadikan contoh untuk perbaikan.

Ribka terang-terangan menegur Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dhakiri dan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid. Dua kepala lembaga negara ini dinilai paling bertanggung jawab atas kasus yang menimpa TKI.

"Saya bilang sama Hanif (Menaker), jangan hanya loncat pagar. Yang bener ini (mengurus TKI). Pengen dikerasin nih? Kalau perlu kartu merah bukan kartu kuning lagi," kata Ribka di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Kamis, 15 Februari 2018.


Presiden Joko Widodo menekankan jajaran menterinya untuk mengatur warga negara yang menjadi TKI agar bisa bekerja nyaman dan mendapat upah layak sesuai amanah konstitusi. Persoalan TKI, kata Ribka, tak boleh dijadikan kambing hitam bila ditemukan masalah.

"Tak ada satu pun orang rela meninggalkan anak dan keluargga untuk jadi TKI, kecuali kepepet. Tak ada TKI yang ingin membunuh orang. Kalaupun ada, kejadian itu untuk membela diri," tutur anggota Komisi IX DPR ini.

Baca: KJRI Penang Dinilai Lamban Merespons Penganiayaan Adelina

Ribka melanjutkan, kehadiran BNP2TKI pun hingga saat ini belum bisa memberikan perlindungan yang pasti bagi TKI. Selain itu, kata dia, temuan keberangkatan TKI tanpa prosedur mestinya jadi pelajaran untuk bisa memperbaiki pendataan.

"Jangan disuruh kerja tapi di sana diperkosa, dibunuh, dan dipukul. Giliran ada masalah, bilang bukan tanggung jawab. Sampai sekarang masih begitu," bebernya.

Ia meyakini tak ada TKI yang sengaja ingin bekerja lewat jalur ilegal. Dari temuan Komisi IX, kata Ribka, pemerintah belum bisa menekan kasus penipuan terhadap TKI. Pemerintah juga tak tegas atas penyedia jasa TKI yang nakal.





(UWA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id