Ilustrasi--Freepik
Ilustrasi--Freepik

Apa Itu Virus Nipah? Mengenal Cara Penularan, Gejala dan Bahayanya bagi Manusia

Muhammad Syahrul Ramadhan • 27 Januari 2026 12:09
Jakarta: Belakangan ini, perhatian dunia kesehatan kembali tertuju pada kemunculan Virus Nipah (NiV) di beberapa wilayah Asia. Sebagai salah satu patogen yang masuk dalam daftar penyakit prioritas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Virus Nipah membawa ancaman serius karena tingkat kematiannya yang tinggi dan gejalanya yang bisa berkembang menjadi sangat fatal.

Apa Itu Virus Nipah?

Melansir informasi dari laman resmi Rumah Sakit Pusat Pertamina, Virus Nipah adalah penyakit zoonosis, yaitu virus yang menular dari hewan ke manusia. Inang alami dari virus ini adalah kelelawar buah dari famili Pteropodidae atau sering disebut kalong.
 
Selain kelelawar, virus ini juga dapat menular melalui hewan perantara seperti babi yang telah terinfeksi. Manusia dapat tertular melalui kontak langsung dengan hewan yang sakit atau dengan mengonsumsi makanan seperti buah atau nira sawit yang telah terkontaminasi oleh air liur atau urine kelelawar yang terinfeksi.
 
Virus Nipah (NiV) merupakan patogen zoonosis yang sangat berbahaya, virus ini memiliki tingkat kematian kasus (Case Fatality Rate/CFR) sekitar 40% hingga 75%  menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Masa inkubasi virus ini biasanya berkisar antara 4 hingga 14 hari. Gejala yang muncul sering kali menyerupai penyakit umum lainnya pada tahap awal, namun dapat memburuk dengan sangat cepat. 

Gejala Nipah

Adapun gejala awal penyakit ini adalah demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Jika penyakit tidak ditangani dengan serius, akan memunculkan gejala berat seperti gangguan pernapasan akut hingga kondisi yang paling ditakuti, yaitu Ensefalitis atau radang otak.
 
Pada kondisi fatal atas masa kritis penderita dapat mengalami disorientasi, kejang, hingga koma dalam waktu 24 hingga 48 jam setelah gejala radang otak muncul. 
 
 
Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) menyatakan bahwa telah mengintensifkan kewaspadaan pada penyebaran virus ini.
 
Pemerintah kini tengah memperkuat surveilans sindromik pada pintu masuk negara dan fasilitas kesehatan. Mereka juga sedang mensosialisasikan pedoman pencegahan pada dinas kesehatan tingkat provinsi.
 
Selain itu, pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk menghindari adanya kontak langsung pada hewan liar, terutama kelelawar, dan mencuci buah hingga bersih sebelum dikonsumsi.
 
Meskipun belum terdeteksi adanya ancaman langsung pada virus ini, para ahli sepakat bahwa perlu adanya kewaspadaan dini. 
 
Meskipun terdengar mengkhawatirkan, kewaspadaan yang dibarengi dengan pemahaman yang benar dapat meminimalisir risiko penularan. Selalu pantau informasi resmi dari otoritas kesehatan dan segera lakukan pemeriksaan jika mengalami gejala yang mencurigakan setelah melakukan kontak dengan hewan atau bepergian ke wilayah terdampak.
 
(Fany Wirda Putri)

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan