Jakarta: Google dan YouTube berkolaborasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Universitas Indonesia, serta didukung penuh oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) meluncurkan buku Panduan Kesehatan Mental Remaja (Digital Wellbeing Guidebook).
Disusun bersama para ahli kesehatan anak dan remaja, buku tersebut dirancang untuk membantu orang tua dan guru mendampingi anak menjaga kesehatan mental dan menghadapi berbagai tantangan di ruang digital.
Inisiatif ini terintegrasi dengan program pelatihan sekitar 2.500 guru BK oleh BPSDM Komdigi dan DPAPP DKI Jakarta untuk menciptakan lingkungan belajar digital yang aman serta mendukung implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 tahun 2025 tentang Perlindungan Anak dalam Sistem Elektronik (PP Tunas).
Celeste Campbell-Pitt, Director of Government Affairs and Public Policy YouTube, APAC, mengatakan peluncuran buku Panduan Kesehatan Mental Remaja merupakan realisasi dari komitmen AKSI Digital yang diumumkan pada awal tahun.
Menurutnya, ruang digital kini menjadi tempat anak-anak belajar, berinteraksi, dan menemukan jati diri. Oleh karena itu, perlindungan terhadap anak harus dilakukan di dalam dunia digital, bukan dengan menjauhkan mereka sepenuhnya dari teknologi.
“Guide Digital Well-Being yang kami rilis hari ini adalah jembatan antara kebijakan, platform, dan orang tua,” kata Celeste dalam acara Peluncuran Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja di Jakarta, Senin, 8 Juni 2026.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid yang juga hadir menyampaikan apresiasi tinggi terhadap langkah konkret ini. Dalam sambutannya ia mengatakan ruang digital telah menjadi “rumah kedua” bagi anak-anak. Karena itu, perlindungan terhadap anak di dunia digital harus dilakukan sama seriusnya dengan perlindungan di dunia nyata.
Menurut Meutya, meskipun pemerintah telah menerapkan aturan melalui PP TUNAS untuk mengatur akses anak terhadap platform digital berisiko tinggi, keterlibatan aktif orang tua dan platform teknologi tetap penting.
“Gimana sih orang tua yang baik berhadapan dengan sosial media? Bagaimana seharusnya orang tua yang baik berhadapan dengan games online? Nah, ini yang kemudian kita lihat hari ini nanti akan kita luncurkan bersama sebuah buku panduan untuk orang tua,” ujarnya.
Meutya berharap buku tersebut dapat membantu orang tua memahami manfaat sekaligus risiko dunia digital, mulai dari interaksi dengan orang asing, paparan konten yang tidak sesuai usia, hingga risiko kecanduan internet.
Jakarta:
Google dan
YouTube berkolaborasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Universitas Indonesia, serta didukung penuh oleh
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) meluncurkan buku Panduan
Kesehatan Mental Remaja (Digital Wellbeing Guidebook).
Disusun bersama para ahli kesehatan anak dan remaja, buku tersebut dirancang untuk membantu orang tua dan guru mendampingi anak menjaga kesehatan mental dan menghadapi berbagai tantangan di ruang digital.
Inisiatif ini terintegrasi dengan program pelatihan sekitar 2.500 guru BK oleh BPSDM Komdigi dan DPAPP DKI Jakarta untuk menciptakan lingkungan belajar digital yang aman serta mendukung implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 tahun 2025 tentang Perlindungan Anak dalam Sistem Elektronik (PP Tunas).
Celeste Campbell-Pitt, Director of Government Affairs and Public Policy YouTube, APAC, mengatakan peluncuran buku Panduan Kesehatan Mental Remaja merupakan realisasi dari komitmen AKSI Digital yang diumumkan pada awal tahun.
Menurutnya, ruang digital kini menjadi tempat anak-anak belajar, berinteraksi, dan menemukan jati diri. Oleh karena itu, perlindungan terhadap anak harus dilakukan di dalam dunia digital, bukan dengan menjauhkan mereka sepenuhnya dari teknologi.
“Guide Digital Well-Being yang kami rilis hari ini adalah jembatan antara kebijakan, platform, dan orang tua,” kata Celeste dalam acara Peluncuran Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja di Jakarta, Senin, 8 Juni 2026.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid yang juga hadir menyampaikan apresiasi tinggi terhadap langkah konkret ini. Dalam sambutannya ia mengatakan ruang digital telah menjadi “rumah kedua” bagi anak-anak. Karena itu, perlindungan terhadap anak di dunia digital harus dilakukan sama seriusnya dengan perlindungan di dunia nyata.
Menurut Meutya, meskipun pemerintah telah menerapkan aturan melalui PP TUNAS untuk mengatur akses anak terhadap platform digital berisiko tinggi, keterlibatan aktif orang tua dan platform teknologi tetap penting.
“Gimana sih orang tua yang baik berhadapan dengan sosial media? Bagaimana seharusnya orang tua yang baik berhadapan dengan games online? Nah, ini yang kemudian kita lihat hari ini nanti akan kita luncurkan bersama sebuah buku panduan untuk orang tua,” ujarnya.
Meutya berharap buku tersebut dapat membantu orang tua memahami manfaat sekaligus risiko dunia digital, mulai dari interaksi dengan orang asing, paparan konten yang tidak sesuai usia, hingga risiko kecanduan internet.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(PRI)