ilustrasi/medcom.id
ilustrasi/medcom.id

Cerita Nakes, Ikhlas Bekerja Meski Takut Pulang Bawa Virus

Candra Yuri Nuralam • 30 Juni 2021 11:38
Jakarta: Covid-19 mengganas. Masyarakat dibuat cemas beraktivitas.
 
Berbagai kebijakan diambil, dari yang ketat hingga ekstrem. Tapi, fokus semua orang seperti terpaku pada angka, benda, dan aturan yang pada akhirnya tak bisa dijamin penerapannya maksimal atau tidak.
 
Hampir semua orang takut dengan kondisi ini. Sayangnya, ada yang tak punya pilihan. Terpaksa memberanikan diri berhadap-hadapan dengan virus yang sudah menginfeksi 2.156.465 orang di Tanah Air.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rini, ahli teknologi laboratorium medis (ATLM), jadi salah satu tenaga kesehatan (nakes) yang tak mendapat ‘keistimewaan’ bersembunyi di rumah agar tak terpapar covid-19. Nakes di salah satu rumah sakit kawasan Jakarta itu tetap bekerja, meski terus-terusan dihantui rasa takut.
 
Sehari-hari, Rini bertugas memeriksa masyarakat yang ingin melakukan pengecekan covid-19 melalui tes antigen maupun PCR. Namun, ketakutan terbesar Rini bukanlah ketika memeriksa pasien. Ia justru cemas bila ternyata tak sengaja membawa virus ke rumah.
 
Baca: Hampir 300 Nakes di Jatim Terpapar Covid-19
 
"Takut banget (bawa virus dari rumah sakit ke rumah), secara punya orang tua yang komorbid," kata Rini kepada Medcom.id, Rabu, 30 Juni 2021.
 
Rini enggan memerinci penyakit orang tuanya. Ia hanya takut orang tuanya mengalami hal buruk bila tertular covid-19.
 
Rini sangat tahu risiko sebagai nakes. Sekali ‘nyemplung’, harus siap dengan segala tantangannya.
 
Antisipasi. Itu jadi hal utama yang rutin ia lakukan.
 
Rini harus ekstra bersih sebelum pulang. Sebelum keluar kantor, dia biasa mandi dan mengganti baju. Setibanya di rumah, dia  mandi lagi untuk memastikan virus tak menempel di badan. Aktivitas yang terlihat sederhana, namun jadi hal penting dalam kondisi seperti ini.
 
"Kalau sudah sampai rumah, cuci tangan, cuci kaki, atau mandi lagi," ujar Rini.
 
Rutinitas itu ia lakukan tiap hari. Dia tidak ingin keluarganya terpapar covid-19 karena dirinya bekerja di rumah sakit. 

Panggilan Hati

Di sisi lain, hatinya terpanggil untuk terus bekerja di rumah sakit sebagai garda terdepan pencegahan covid-19 di Indonesia. Ia selalu menyelipkan doa setiap memeriksa pasien.
 
"Nge-swab sambil berdoa supaya pandemi berakhir dan orang-orang sehat lagi," tutur Rini.
 
Rini meminta masyarakat berhenti menyepelekan keberadaan covid-19. Dia menegaskan covid-19 ada dan nyata menyerang tubuh.
 
Masyarakat diminta tidak bandel. Jangan mengabaikan protokol kesehatan. Protokol kesehatan harus jadi harga mati di hati masyarakat.
 
"Semoga orang yang menyepelekan cepat sadar, ingat dampaknya ke orang lain. Pakai masker bukan cuma untuk diri sendiri, tapi untuk orang lain. Jangan karena lalai orang lain yang kena!" tegas dia.
 
(NUR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif