Industri Harus Tekan Penggunaan Bahan tak Ramah Ozon

Whisnu Mardiansyah 16 September 2018 10:29 WIB
peduli lingkungan
Industri Harus Tekan Penggunaan Bahan tak Ramah Ozon
Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK Ruandha Agung Sugardiman/Medcom.id/Whisnu Mardiansyah
Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan meminta pelaku industri menekan penggunaan bahan baku kimia tak ramah ozon. Sektor industri berkontribusi terhadap kerusakan lapisan ozon.

"Pemilihan bahan-bahan yang ramah ozon dan rendah potensi pemanasan global tersebut juga harus memerhatikan dan mempertimbangkan kesiapan industri kita untuk menggunakan bahan tersebut pada industri manufakturnya," kata Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Ruandha Agung Sugardiman di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu, 16 September 2018.

Pada peringatan Hari Ozon se-Dunia, KLHK meminta sektor indusrri mempertimbangkan aspek kompetitif serta aspek keamanan dan keselamatan jika menggunakan bahan kimia. Industri wajib menerapkan prinsip BROCCOLI (Bebas Bromine, Chlorine, dan Pro-Climate Change).


"Pada umumnya bersifat mudah terbakar, beracun, atau memiliki tekanan operasi yang tinggi. Diperlukan tenaga kerja yang kompeten untuk menangani bahan-bahan tersebut," jelas dia.

Baca: Pemuda Harus Berperan Aktif Menjaga Lapisan Ozon

Faktor lain yang berkontribusi pada kerusakan ozon ialah penggunaan penyejuk udara atau air conditioner (AC). Masyarakat diimbau menggunakan jasa teknisi AC tersertifikasi.

"Tenaga kerja yang kompeten memiliki kontribusi besar dalam penyelamatan lapisan ozon sekaligus perubahan iklim," tegas dia.

Berdasarkan hasil studi Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang dipublikasikan pada Jurnal Geophysical Research Letters pada 4 Januari 2018 membuktikan pelarangan penggunaan bahan kimia yang merusak ozon dapat secara perlahan memulihkan kondisi lapisan ozon. Peneliti NASA menyatakan hasil pengukuran menunjukkan terjadinya penurunan konsentrasi klorin sebesar 20% dari kondisi pada 2005 akibat kebijakan penghapusan penggunaan bahan perusak ozon.

Ruandha menjelaskan negara-negara di dunia sepakat memulai penggunaan bahan-bahan berdampak pemanasan global di bawah kerangka Protokol Montreal dengan ketentuan tambahan, yaitu Amandemen Kigali.

"Penggunaan bahan yang ramah ozon dan rendah potensi pemanasan global diharapkan dapat berkontribusi dalam pencegahan kenaikan suhu bumi di bawah dua derajat," ujar dia.



(OJE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id