Indonesia Perlu <i>Grand Design</i> Pendidikan
Ilustrasi. Foto: Antara/Muhammad Iqbal.
Jakarta: Indonesia dinilai belum memiliki grand design pendidikan secara nasional. Hal itu membuat kurikulum pendidikan tanah air sering berubah.
 
Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo menjelaskan, cetak biru grand design diperlukan sebagai pedoman, petunjuk dan dasar dalam pengembangan kebijakan pendidikan tanah air. Sehingga, kurikulum pendidikan tidak mudah berganti.
 
"Waktunya bagi pemerintah untuk membuat cetak biru atau grand design pendidikan yang melibatkan seluruh komponen pendidikan. Tolok ukur dan petunjuk arah dalam menjalankan kebijakan-kebijakan pendidikan secara nasional bisa jadi pedoman," kata Heru dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 2 Mei 2018.

Baca: FSGI Kritisi Kesejahteraan Guru di Hardiknas

Heru mencontohkan kurikulum 2013 yang mengalami revisi. Padahal, kurikulum 2013 sudah cukup canggih, namun implementasinya masih kerap bermasalah.
 
"Para guru mengeluhkan betapa ruwetnya penilaian dalam kurikulum 2013. Begitu mudahnya mengganti kurikulum, namun begitu sulitnya negara menyiapkan guru-guru yang memenuhi empat kompetensi utama seorang guru," tutur Heru.
 
Empat kompetensi yang dimaksud menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru adalah kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial.    
 
Heru menegaskan, cetak pendidikan nasional ini sudah sangat mendesak. Sebab, kebijakan pendidikan masih dirasakan parsial, belum mengena ke semua aspek.
 
"Agar pembangunan pendidikan nasional tak lagi dilakukan secara parsial dan sporadis tetapi lebih terencana, komprehensif dan melibatkan semua pihak," kata Heru.






(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id