Pustaka Ransel yang berbasis di Banda Aceh konsisten menyebarkan virus membaca, sejak Juli 2015 (Foto:Facebook)
Pustaka Ransel yang berbasis di Banda Aceh konsisten menyebarkan virus membaca, sejak Juli 2015 (Foto:Facebook)

Berbagi Pengalaman Membaca Buku bersama Pustaka Ransel Aceh

Nasional bukuuntukindonesia
Pelangi Karismakristi • 29 Juni 2017 07:00
medcom.id, Jakarta: Budaya literasi belum tertanam di masyarakat Indonesia. Penyebabnya, minat baca masyarakat kita masih rendah.
 
Berdasarkan studi Most Literate Nation in the World yang dilakukan Central Connecticut State University pada 2016, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).
 
Miris memang, melihat hasil studi tentang minat baca tersebut. Namun, kita tak boleh berkecil hati. Semangat membaca harus terus dikobarkan, terutama kepada anak-anak, sejak dini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Beruntung, generasi muda bangsa ini masih memiliki kepedulian menanamkan minat membaca kepada anak-anak. Pustaka Ransel, misalnya. Komunitas yang berbasis di Banda Aceh itu konsisten menyebarkan virus membaca, sejak Juli 2015.
 
Dhesi Badrina, motor penggerak Pustaka Ransel, berbagi kisahnya dengan Metrotvnews.com. Kata dia, inspirasi mendirikan Pustaka Ransel diperoleh usai mengikuti ekspedisi Suku Anak Dalam di Jambi.
 
"Saya berpikir, kenapa saya tidak berbuat sesuatu tentang gerakan berbagi terkait pembelajaran di Aceh. Akhirnya, saya dan rekan yang juga berpengalaman di Indonesia Mengajar merencanakan berdirinya komunitas berbagi yang terkait pembelajaran," ujar Dhesi Badrina.
 
Dhesi mendirikan Pustaka Ransel bersama Deasi Susilawati. Tapak langkah awal mereka bersama Pustaka Ransel dimulai di Pulo Aceh pada Juli 2015. Untuk menjangkau Pulo Aceh, mereka menempuh jarak dua jam penyeberangan dari Banda Aceh dengan menumpang kapal nelayan.
 
Berbagi Pengalaman Membaca Buku bersama Pustaka Ransel Aceh
(Foto:Facebook)
 
Mereka berdua mengajak tujuh orang temannya yang seluruhnya adalah perempuan untuk ikut ke Pulo Aceh. Selama empat hari, mereka 'membuka lapak' penyewaan buku di beberapa sekolah dasar. Kegiatan mereka mendapat tanggapan positif dari anak-anak dan masyarakat sekitar.
 
"Pulang dari sana, kami pikir kalau cuma kita berdua saja rasanya kurang seru. Saya bilang begitu sama Kak Dea. Akhirnya, saya ajak tujuh teman tadi. Kami menetapkan nama, aturan, dan merekrut fasilitator. Nama komunitasnya, Aceh Let's Do It, dan program pertama kami adalah Pustaka Ransel," ujar perempuan yang kini sedang magang di salah satu koran harian di Aceh.
 
Awalnya, Pustaka Ransel hanya pinjam buku dari 'komunitas sebelah' untuk disewakan kepada anak-anak di Pulo Aceh. Kini, Pustaka Ransel telah memiliki 400 buku yang dihimpun dari berbagai sumber, seperti sumbangan masyarakat yang didapat dari media sosial, dan dari mulut ke mulut.
 
"Semua adalah buku bacaan. Tidak ada buku sekolah. Buku ini tidak kita sumbangkan, melainkan kita pinjamkan saat kita buka lapak. Misalnya, di sekolah. Kita bawa sesuai kebutuhannya. Kita sudah tahu berapa jumlah siswanya. Misal, kita bawa 200 buku dan akan dibaca secara bergantian," kata dia.
 
Pustaka Ransel siap sedia berangkat ke beberapa daerah terpencil di Aceh. Ya, tentu saja mengenakan ransel. Tiap relawan membawa masing-masing 10 buku dalam ranselnya dengan formasi tujuh relawan dan dua fasilitator Ransel Pustaka.
 
Niat baik mereka disambut positif oleh anak-anak. Bagi yang sudah bisa membaca, mereka menikmati bukunya sendiri. Namun, mereka yang belum bisa membaca, akan dibacakan cerita oleh para relawan.
 
Berbagi Pengalaman Membaca Buku bersama Pustaka Ransel Aceh
(Foto:Facebook)
 
"Apalagi di daerah Pulo Aceh belum banyak anak yang bisa Bahasa Indonesia. Dan keterbatasan relawan juga tidak bisa menggunakan bahasa Aceh, jadi mereka terkadang bercerita dengan bahasa tubuh. Setelah baca, nanti ada review buku bacaan, karena mereka tidak bisa Bahasa Indonesia yang baik, dan tulisannya pakai bahasa Indonesia. Menariknya, mereka menceritakan kembali dengan Bahasa Aceh," tutur Dhesi.
 
Berbagi kepada anak pelosok memberikan nilai kehidupan bagi Dhesi. Bukan hanya sekadar membagikan buku cerita saja, namun juga rasa memiliki saudara baru. Sebab, ketika berada di sana, para relawan Pustaka Ransel akan menginap empat hari dan berbaur dengan warga sekitar.
 
"Kami senang ketika melihat anak-anak membaca buku bacaan yang menarik. Mereka sangat antusias jika kami bacakan cerita. Matanya terlihat berbinar-binar. Ralawan kami juga tidak menyangka kalau banyak anak yang meminta kami kembali ke sana. Ini menjadi hal yang membuat kami selalu tergugah dan bersemangat," kata perempuan yang gemar membaca buku sastra klasik ini.
 
Satu hal yang penting dan ia tekankan yakni, dengan keberadaan Pustaka Ransel anak-anak memiliki pengalaman bersinggungan dengan buku menarik.
 
"Kita harus mulai dari sekarang (menumbuhkan minat baca) karena bukan cuma di Aceh saja, walaupun hasilnya tidak bisa dirasakan dalam wajtu dekat. Kita mulai setapak-setapak. Kita harapkan anak-anak yang masih SD ini jika sudah besar bisa menularkan kebiasaan membaca terhadap generasi berikutnya. Setidaknya, bisa kenal buku dan pengalaman membaca paling penting," kata Dhesi.
 
Diharapkan, generasi yang kini lebih tua bisa berbagi pengalaman kepada yang lebih muda. Salah satunya, dengan membagikan pengalaman membaca buku.
 
"Tidak ada salahnya kalau generasi sekarang mau berbagi, meluangkan waktu, memberikan cerita, inspirasi tokoh dari buku yang dibacanya," ucap Dhesi.
 
Itu adalah kisah inspiratif dari Pustaka Ransel. Apakah Anda terinspirasi dengan semangat dan kegigihan mereka untuk mengobarkan semangat membaca? Jika Anda merasa belum mampu berbuat seperti Pustaka Ransel, Anda bisa memulai sebuah langkah kecil melalui gerakan #BukuUntukIndonesia.
 
Gerakan #BukuUntukIndonesia mengajak masyarakat berbagi kebaikan dengan memberikan buku gratis ke pelosok negeri. Awali langkah kebaikan Anda dengan mengunjungi tautan www.BukuUntukIndonesia.com. Klik tombol "berbagi" di website Buku Untuk Indonesia. Kemudian, Anda akan diarahkan ke laman Blibli.com untuk memilih paket berbagi yang diinginkan.
 
Dengan berbagi minimal Rp100 ribu saja Anda sudah berpartisipasi untuk mewujudkan generasi penerus bangsa yang lebih baik. Nantinya, dana yang terkumpul melalui gerakan #BukuUntukIndonesia akan dikonversi menjadi buku dan disalurkan ke berbagai daerah di Indonesia.
 
(ROS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif