Keterbatasan Ekonomi Tak Menyurutkan Minat Baca Demi Cita-cita
Siswa-siswi di SD Kupang tengah asyik membaca (Foto:Dok)
medcom.id, Kupang: Buku adalah jendela dunia. Dengan rajin membaca buku, Anda bisa mengetahui banyak hal. Bahkan, ada yang menyebut buku adalah profesor sesungguhnya.

Siswa-siswi SD di Kupang, Nusa Tenggara Timur, menyadari betapa pentingnya membaca buku. Selain untuk kebutuhan sekolah, mengetahui banyak hal melalui buku juga bisa memuluskan mereka menggapai cita-cita. 

Windi, siswi kelas 2 SD Oetona 2 Kupang, berhasrat menjadi guru. Untuk mewujudkan itu, ia membaca banyak jenis buku. “Saya suka baca buku Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Saya suka baca semua buku,” kata Windi.




Sedangkan Willy, siswa kelas 6 SD Negeri Batuplat 2 Kupang ingin menjadi tentara. Cita-cita tersebut terinspirasi dari sang ayah yang sempat bekerja sebagai satuan pengamanan (satpam). “Karenanya saya suka membaca,” kata Willy. 

Irna Tanesib, teman sekelas Willy, menyukai buku-buku tentang bumi dan planet. “Saya sering membayangkan suatu saat bisa berkunjung ke sana,” tuturnya.

Sayangnya, bagi mereka buku seperti barang mahal. Orangtua mereka tak memiliki anggaran khusus untuk membeli buku. Kalau pun ada, hanya untuk membeli buku tulis. Willy, putra dari seorang sopir ojek, tidak mati langkah. Ia punya cara agar tetap bisa membaca buku. “Biasanya saya fotokopi.”

Nasib Windi dan Irna serupa Willy. Orangtuanya juga tidak mampu kalau harus membelikan buku, selain untuk menulis. Keduanya pergi ke perpustakaan sekolah untuk membaca. “Di perpustakaan, saya suka baca buku yang banyak gambarnya,” kata Windi.

Meski terus melakukan perbaikan dan peningkatan layanan dan fasilitas, SD Negeri Oetona 2 dan SD Negeri Batuplat Kupang masih mengalami kesulitan untuk memberi layanan perpustakaan yang lebih mumpuni dan memadai bagi murid-muridnya.

“Buku-buku di perpustakaan kami sudah mulai kumal karena sering dibaca,” ujar Kepala Sekolah SD Negeri 2 Oetona Adriana A. Dju Tadjo. 



Dana bantuan operasional sekolah (BOS) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak bisa diandalkan untuk pengadaan buku baru. Sebab, alokasi dana BOS untuk keperluan perpustakaan hanya 5 persen.

“Ini membuat kami kesulitan menambah buku di perpustakaan,” kata Kepala Sekolah SD Negeri Batuplat 2 Kupang Marthinus Bili Bani yang memimpin sekolah dengan jumlah murid mencapai 363.

Cerita-cerita seperti inilah yang melatari PT Bank Central Asia (BCA) Tbk membuat gerakan #BukuUntukIndonesia. SD Negeri 2 Oetona dan SD Negeri Batuplat 2, termasuk yang menerima manfaat dari gerakan ini.



Melalui gerakan ini, BCA ingin memberikan kontribusi untuk lebih membuka akses pada buku berkualitas di pelosok Indonesia. Dari Maret hingga 15 Juni 2017, gerakan ini mengumpulkan dana donasi lebih dari Rp1 miliar yang akan disebar dalam bentuk buku ke 104 sekolah di 60 titik di Indonesia.

“Kami senang mendapat bantuan dari BCA. Buku-buku di perpustakaan kami sudah kumal karena sering dibaca. Jenis bukunya juga kurang beragam, sehingga anak-anak terpaksa membacanya berulangkali dan bosan. Bantuan ini tentu membantu kami meningkatkan literasi anak-anak di sekolah,” ujar Adriana.

Ayo, ikut serta dalam gerakan #BukuUntukIndonesia. Caranya, kunjungi tautan www.BukuUntukIndonesia.com. Klik tombol "berbagi". Kemudian, Anda akan diarahkan ke laman Blibli.com untuk memilih paket berbagi. Dengan berbagi minimal Rp100 ribu, Anda sudah berpartisipasi mewujudkan generasi penerus bangsa lebih baik.



(ROS)