Suasana diskusi di Kedai Sirih Merah, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu, 23 November 2019. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam
Suasana diskusi di Kedai Sirih Merah, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu, 23 November 2019. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam

Indonesia Butuh Standar Ajaran Agama untuk Tangkal Radikalisme

Nasional syariat islam radikalisme Tangkal Radikalisme
Candra Yuri Nuralam • 23 November 2019 10:21
Jakarta: Staf Khusus Menkominfo Zulfan Lindan mengatakan, Indonesia harus mempunyai standar ajaran agama. Dengan standar itu, pemahaman radikalisme bisa diukur dengan jelas.
 
"Kita harus tegas, Malaysia itu berani, paham yang dibangun harus tegas seperti ahlussunah wal jamaah di Malaysia. Yang lain tidak boleh," kata Zulfan di Kedai Sirih Merah, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu, 23 November 2019.
 
Saat ini pemahaman radikalisme di Indonesia masih belum jelas. Pasalnya, menurut dia, Indonesia belum memiliki standar pendidikan agama yang menjadi patokan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia mengatakan jika Indonesia mempunyai patokan pendidikan agama, hal itu akan memperjelas pengertian radikal di Indonesia. Jika ada yang melanggar, lanjut dia, negara bisa langsung mengklaim orang tersebut radikal.
 
"Paham lain silakan, tapi jangan harus di pendidikan resmi dong, kalau paham ekstrim sekali pun itu berurusan saja dengan keamanan dan negara," ujar Zulfan.
 
Zulfan mengatakan, adanya patokan pendidikan agama juga sangat penting untuk menghilangkan kesalahpahaman perspektif Islam di Indonesia. Menurutnya, saat ini, masih banyak orang di Indonesia yang mengira penyebaran Islam di ibu pertiwi dilakukan dengan peperangan.
 
"Di dalam pemahaman pendidikan dan pengajaran Islam diharap bisa positif, jangan kita pikir sejarah Islam itu pedang dan perang," tutur Zulfan.
 
Zulfan ingin adanya patokan pendidikan agama dijalankan di Indonesia. Dengan itu, kata dia, paham radikalisme di Indonesia bisa terhapus secara perlahan.
 
"Ini yang saya kira pola pengajaran Islam harus jelas," ucapnya.
 
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius bakal bekerja sama dengan Kementerian Agama menerjunkan 260 ribu penceramah. Para penceramah itu diminta terlibat menangkal radikalisme di Indonesia.
 
"Pak Menteri Agama mengatakan pada saat bertemu Wapres (Wakil Presiden Ma'ruf Amin), kita punya 260 ribu penceramah dan akan kita aktifkan itu," kata Suhardi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Pusat, Kamis, 21 November 2019.
 
Sebanyak 260 ribu penceramah itu akan ditempatkan di wilayah prioritas. BNPT juga akan berkerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam program itu.
 

(DMR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif