Peneliti Amnesty International Indonesia Papang Hidayat (kanan). (Foto: Medcom.id/Ilham Pratama)
Peneliti Amnesty International Indonesia Papang Hidayat (kanan). (Foto: Medcom.id/Ilham Pratama)

Amnesty Sayangkan Perilaku Buruk Oknum Polisi pada Aksi 22 Mei

Nasional Demo Massa Penolak Pemilu
Ilham Pratama Putra • 25 Juni 2019 15:24
Jakarta: Amnesty menyayangkan perilaku buruk oknum anggota polisi pada aksi 22 Mei 2019. Amnesty menemukan bukti sejumlah oknum polisi melakukan penganiayaan terhadap pelaku kerusuhan yang telah tertangkap.
 
"Penangkapan tidak boleh disertai kekerasan. Karena orang tersebut sudah tidak melawan. Sudah diamankan tapi tetap ditendang," kata peneliti Amnesty International Indonesia Papang Hidayat, di Kantor Amnesty Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 25 Mei 2019.
 
Kendati demikian, Papang tak menilai kinerja polisi salah. Polisi punya kebijakan sendiri dalam mengamankan demonstrasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Di saat mereka menangkap dan membubarkan aksi, dia boleh menggunakan instrumen kekerasan. Mulai dari tameng, pentungan hingga senjata api jika memang merugikan dan berpotensi merebut nyawanya sendiri maupun orang lain," lanjut dia.
 
Baca juga:Amnesty Tagih Pengusutan Kasus Penyiksaan di Kampung Bali
 
Papang tidak hanya menyayangkan penyiksaan yang dinilai tak tepat sasaran. Dia juga miris korban tidak mendapat perhatian usai aksi.
 
"Kemudian kita menemui hampir tidak ada pemulihan untuk korban dan keluarga korban. Ada kehilangan nyawa, juga fungsi organ tubuh. Ini pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dianggap paling serius," pungkasnya.
 
Sebelumnya, polisi menetapkan status tersangka terhadap 447 orang yang diduga melakukan kerusuhan 21-22 Mei 2019 di depan kator Bawaslu, Jakarta. Penangkapan dilakukan di beberapa titik kerusuhan. Di antaranya di Jalan MH Thamrin, depan Kantor Bawaslu, daerah Monumen Patung Kuda Arjuna Wiwaha, kawasan Menteng, Slipi, dan Petamburan.
 
Polisi juga mengidentifikasi dua kelompok dari ratusan orang tersangka itu. Sebanyak dua orang berasal dari kelompok Gerakan Reformis Islam (Garis) yang terafiliasi dengan ISIS. Sementara itu, tiga orang lain juga diidentifikasi dari kelompok perusuh.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif