Mendagri: KTP-el Tercecer tak Perlu Jadi Polemik

M Sholahadhin Azhar 31 Mei 2018 12:22 WIB
e-ktp
Mendagri: KTP-el Tercecer tak Perlu Jadi Polemik
Mendagri Tjahjo Kumolo--Medcom.id/M Sholahadhin Azhar.
Jakarta: Masalah tercecernya KTP-el di Bogor, dianggap tak perlu diperpanjang. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyatakan pihaknya sudah mengawal permasalahan itu.

"(Sudah) enggak ada masalah. Sudah dipotong, jumlahnya ada 805.311 di gudang Semplak, (Bogor)," kata Tjahjo melalui pesan singkat, Kamis, 31 Mei 2018.

Tjahjo juga membantah tudingan beberapa pihak tentang KTP-el di Semplak. Pertama soal jumlah, tak ada jutaan kartu penduduk seperti yang dituduhkan. Sebab di gudang tersebut hanya ada sekitar 800 ribu KTP-el rusak, yang berasal dari seluruh daerah di Tanah Air.


Kedua, yakni tudingan yang menyebut tak semua KTP-el yang disimpan, rusak. Hal ini diutarakan Tifatul Sembiring melalui aku Twitter-nya usai sidak ke Gudang Semplak. Menanggapi itu, Tjahjo menyebut tak semua KTP rusak secara fisik.

Baca: Insiden KTP-el Tercecer tak Boleh Terulang

Ada juga kartu penduduk yang cacat dari segi data. Misalnya dalam penulisan nama, alamat, tanggal lahir, dan salah ketik. "Jadi tidak mesti rusak secara fisik," sebut Tjahjo.

Tudingan ketiga mengenai data warga negara asing atau WNA yang viral di media sosial tertera di salah satu KTP-el tercecer. Tjahjo memastikan hal itu tidak ada di kartu penduduk yang rusak.

"Jadi ketika di medsos menyebut isinya jutaan, ini ingin digunakan untuk pilkada atau warga asing, enggak ada. Buktinya udah clear semua, misalnya Anda mau baca semua satu-satu silahkan," tantang Tjahjo.



Terpisah, Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh menyebut hal ini sebagai pelajaran. Agar tak terulang, pihaknya tengah mendesain aturan supaya daerah memotong terlebih dahulu KTP sebelum dikirim.

Sama seperti yang tengah dilakukan di Gudang Semplak, semua KTP-el yang cacat bakal dipotong di bagian kanan atas.   

"Jadi mulai besok daerah yang mau mengirim KTP-el yang rusak harus sudah dipotong dulu dari daerah. Fisiknya dibawa ke sini untuk dimintakan ganti," kata Zudan.



(YDH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id