Jakarta: Di tengah maraknya fenomena remaja yang memanipulasi tahun lahir atau membuat akun palsu (fake account) demi menghindari pembatasan umur di internet, peran aktif orang tua di lingkungan rumah menjadi benteng pertahanan utama. Pengawasan perangkat teknologi seketat apa pun dinilai tidak akan optimal tanpa adanya pendekatan emosional yang sehat.
Hadir membagikan sudut pandang praktis pengasuhan dalam acara diskusi Cerdas Digital 2026, selebriti sekaligus perwakilan orang tua, Ersa Mayori, memaparkan kiatnya dalam menerapkan pola asuh di era digital (smart digital parenting) agar anak tetap terbuka dan terjaga kepercayaannya.
Memaksimalkan Fitur Ekosistem Gawai secara Transparan
Ersa menceritakan bahwa dirinya memanfaatkan fitur ekosistem gawai (device ecosystem terintegrasi seperti sistem pengawasan keluarga pada iOS) di mana akun anak dan orang tua saling terhubung sebagai guardian. Lewat sistem family sharing ini, setiap kali anak hendak mengunduh aplikasi baru, orang tua akan menerima notifikasi verifikasi. Namun, Ersa menggarisbawahi bahwa kontrol ini harus didasari keterbukaan, bukan kecurigaan.
"Tapi menurutku hal seperti itu bisa dilakukan kalau komunikasi di keluarga itu berjalan dengan baik. Di mana anak itu tahu bahwa kita itu gak bermaksud untuk memata-matai kok. Kita itu tidak bermaksud untuk membatasi atau mengawasi. Tapi justru kita menjaga mereka,” ujar Ersa.
Menyamakan Persepsi Risiko Dunia Maya
Bagi Ersa, tantangan terbesar orang tua adalah memberi pemahaman kepada remaja bahwa bahaya di internet itu nyata meskipun tidak berwujud fisik. Oleh karena itu, orang tua dituntut untuk bisa duduk bersama anak dan menyamakan persepsi mengenai karakteristik risiko di dunia siber.
"Ada dunia nyata, ada dunia maya. Dunia nyata semua kelihatan mata, dunia maya itu gak kelihatan. Rasanya tidak terlihat, tapi padahal potensi risikonya itu ada. Ketika anak punya satu pengalaman yang sama dengan orang tua, bahwa kita di sini untuk saling menjaga, aku rasa hal seperti itu akan lebih mudah dijalankan,” pungkas Ersa.
Melalui kombinasi yang seimbang antara pemanfaatan fitur perlindungan teknologi yang disediakan platform serta komunikasi dua arah yang hangat di rumah, orang tua dapat membimbing anak remaja menjelajahi internet dengan aman sekaligus menghadirkan ketenangan di dalam keluarga. (Fany Wirda Putri)
Jakarta: Di tengah maraknya fenomena remaja yang memanipulasi tahun lahir atau membuat akun palsu (fake account) demi menghindari pembatasan umur di internet, peran aktif orang tua di lingkungan rumah menjadi benteng pertahanan utama. Pengawasan perangkat teknologi seketat apa pun dinilai tidak akan optimal tanpa adanya pendekatan emosional yang sehat.
Hadir membagikan sudut pandang praktis pengasuhan dalam acara diskusi Cerdas Digital 2026, selebriti sekaligus perwakilan orang tua, Ersa Mayori, memaparkan kiatnya dalam menerapkan pola asuh di era digital (smart digital
parenting) agar anak tetap terbuka dan terjaga kepercayaannya.
Memaksimalkan Fitur Ekosistem Gawai secara Transparan
Ersa menceritakan bahwa dirinya memanfaatkan fitur ekosistem gawai (device ecosystem terintegrasi seperti sistem pengawasan keluarga pada iOS) di mana akun anak dan orang tua saling terhubung sebagai guardian. Lewat sistem family sharing ini, setiap kali anak hendak mengunduh aplikasi baru, orang tua akan menerima notifikasi verifikasi. Namun, Ersa menggarisbawahi bahwa kontrol ini harus didasari keterbukaan, bukan kecurigaan.
"Tapi menurutku hal seperti itu bisa dilakukan kalau komunikasi di keluarga itu berjalan dengan baik. Di mana anak itu tahu bahwa kita itu gak bermaksud untuk memata-matai kok. Kita itu tidak bermaksud untuk membatasi atau mengawasi. Tapi justru kita menjaga mereka,” ujar Ersa.
Menyamakan Persepsi Risiko Dunia Maya
Bagi Ersa, tantangan terbesar orang tua adalah memberi pemahaman kepada remaja bahwa bahaya di internet itu nyata meskipun tidak berwujud fisik. Oleh karena itu, orang tua dituntut untuk bisa duduk bersama anak dan menyamakan persepsi mengenai karakteristik risiko di dunia siber.
"Ada dunia nyata, ada dunia maya. Dunia nyata semua kelihatan mata, dunia maya itu gak kelihatan. Rasanya tidak terlihat, tapi padahal potensi risikonya itu ada. Ketika anak punya satu pengalaman yang sama dengan orang tua, bahwa kita di sini untuk saling menjaga, aku rasa hal seperti itu akan lebih mudah dijalankan,” pungkas Ersa.
Melalui kombinasi yang seimbang antara pemanfaatan fitur perlindungan teknologi yang disediakan platform serta komunikasi dua arah yang hangat di rumah, orang tua dapat membimbing anak remaja menjelajahi internet dengan aman sekaligus menghadirkan ketenangan di dalam keluarga.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)