Ketua Hari Bahasa Isyarat Internasional Laura--Medcom.id/Sonya Michaella.
Ketua Hari Bahasa Isyarat Internasional Laura--Medcom.id/Sonya Michaella.

Saya Terlahir Tuli, tapi tak Menyerah

Sonya Michaella • 22 September 2018 15:19
Jakarta: Terlahir tuli, tak membuat Ketua Hari Bahasa Isyarat Internasional, Laura putus asa. Dia berusaha keras untuk menjadi sama dengan orang-orang normal lainnya. Salah satunya dengan mempelajari bahasa isyarat.
 
"Saya terlahir tuli. Ayah, ibu dan kakak saya tuli. Tapi kami tidak menyerah. Kami berusaha untuk bisa setara dengan orang-orang normal,” kata Laura kepada Medcom.id di sela-sela gelaran Hari Bahasa Isyarat Internasional di Jakarta, Sabtu, 22 September 2018.
 
Namun, Laura sempat merasakan ada yang berbeda dari perlakuan teman-temannya, saat duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, dirinya bersekolah di sekolah umum.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Waktu itu, sangat berat untuk saya. Saya harus membaca gerak bibir pengajar. Di situ saya merasa berbeda dan merasa tidak lebih pintar dari teman-teman yang lain,” ucap dia.
 
Baca: Pemerintah Diminta Beri Akses untuk Tunawicara dan Tunarungu
 
Selepas SMA, Laura melanjutkan sekolah di Hong Kong. Ia mengambil jurusan linguistik, khusus untuk mempelajari bahasa. Beruntungnya, sekolah umum di Hong Kong, dilengkapi dengan pengajar bahasa isyarat.
 
“Dosen saya khusus untuk para penyandang tuna rungu dan tuna wicara, walaupun dia orang normal. Jadi di kampus, kami sudah terbiasa berbicara bahasa isyarat,” tutur Laura.
 
Kebiasaan seperti inilah yang ingin Laura tularkan kepada teman-temannya sesama tuli di Indonesia. Hingga saat ini, penggunaan bahasa isyarat di Indonesia memang belum banyak dan belum berkembang seperti di luar negeri.
 
“Sampai sekarang, masih ada teman-teman tuli yang enggan menggunakan bahasa isyarat. Mereka lebih memilih untuk menggunakan bahasa oral. Mereka jadi seperti dipaksakan,” tukasnya.
 
Lewat acara Hari Bahasa Isyarat Internasional, Laura mengajak agar teman-teman tuna rungu dan tuna wicara bisa mulai terbiasa menggunakan bahasa isyarat, walaupun sulit.
 
Ia juga meminta kepada Pemerintah Indonesia agar lebih memberikan akses kepada para penyandang tuna rungu dan tuna wicara. Khususnya di bidang pendidikan, dengan mulai terbiasa menyediakan juru bahasa isyarat.
 
(YDH)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif