medcom.id, Jakarta: Kecil bahagia, muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga.
Istilah ini cukup masyhur di pengujung 1990-an. Puncak ketenarannya, bahkan masih membekas di punggung dan dada kaus lawas yang karib dengan konten pelesetan. Joger, dari Bali dan Dagadu, Yogyakarta, salah satunya.
Jargon konyol itu, sama sekali tidak sedang menggambarkan kesempurnaan hidup. Sebaliknya, ia malah menjelma kritik. Fungsinya, kian kuat dengan banyaknya buku yang turut menggunakan pemeo tersebut untuk menyinggung kecenderungan buruk generasi baru di Indonesia.
Ambil contoh, karya yang ditulis para penggiat Sanggar Talenta pada 1999. Kalimat itu, bahkan dijadikan judul utama dan mengait-pautkannya dengan gaya hidup hedonisme.
"Disinyalir, virus hedon ternyata erat melekat dalam kehidupan kami," tulis A.A Kunto dalam pengantar buku tersebut.
Mulanya, tak ada yang salah dengan hedonisme. Toh, nyaris semua manusia menargetkan kesenangan dalam kehidupan sehari-hari. Yang jadi perkara, ketika seseorang sudah tak peduli lagi ihwal bagaimana cara, sarana, dan akibat dari proses pencarian itu.
Singkat kata, sikap hedonisme bisa menihilkan pakem halal-haram dalam diri pelaku. Yang terpenting cuma satu, tercapainya kesenangan, atau terengkuhnya kenikmatan.
Belajar dari Andika-Anniesa
Nasib orang siapa tahu. Hari ini bergelimang harta, bisa jadi, besok raib entah kemana. Proses kejadiannya pun, bisa panjang-bisa seketika.
Yang paling anyar, serupa kasus yang menjerat pasangan pengusaha jasa penyedia layanan umrah Andika Surachman dan Anniesa Devitasari Hasibuan. Kedua pimpinan PT First Anugerah Karya Wisata alias First Travel itu, disangka menipu 58.682 orang sebab tak lekas menerbangkannya ke Tanah Suci sesuai janji. Taksiran kerugiannya, nyaris Rp900 milyar.
Kemunculan dan tamatnya riwayat First Travel, tak butuh waktu banyak. Cuma kurang dari sepuluh tahun saja sejak didirikan pada 2011 silam.
Tak sedikit yang menyebut, musabab utama kejatuhannya terletak pada gaya hidup yang hedon sang pemilik. Andika pun Anniesa, seakan menyimpan dendam nasib lantaran sebelumnya hidup dalam keadaan susah.
Pasutri yang di masa-masa berat pernah berprofesi sebagai penjaga minimarket, jual pulsa telepon, berdagang burger, juga seprei itu, tiba-tiba terkesan kaya mendadak.
Melalui akun media sosialnya, kedua pasangan ini kerap tampil dengan busana yang glamor. Tak sesekali pula, mereka ambil pose dari tempat wisata favorit di berbagai belahan dunia.
Andika dan Anniesa, juga tak jarang memamerkan rumahnya yang selaksana istana. Dan benar, pamor kegelimangan harta itu merangkak naik seiring kegelisahan para korban yang kian menjadi.
Perjalanan itu berpuncak pada awal 2017. Geger First Travel dimulai ketika ratusan calon jemaah protes karena tak juga mendapat kabar keberangkatan yang jelas. Mereka yang mestinya bisa berhaji kecil pada akhir 2015 itu, masih banyak yang terkatung-katung hingga hari ini.
Kepala Pusat Penelitian dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin menduga, sebagian besar dana calon jemaah malah digunakan untuk membeli aset pribadi.
"Berdasarkan transaksi sejak 2011, sebagian untuk memberangkatkan umrah, sebagian ada yang diinvestasikan dan sebagian digunakan membeli aset pribadi," ungkap Kiagus, dalam Metro Siang di Metro TV, Senin 21 Agustus 2017.
Pengalaman Andika dan Anniesa, bisa jadi cuma satu contoh dari bahaya perangkap gaya hidup hedonisme yang mengancam masyarakat Indonesia. Utamanya, kelas menengah.
Gejala ini, sebenarnya bisa diwaspadai secara dini. Ciri gaya hedon menjangkit dalam diri di antaranya, cenderung berlaku boros namun minim nilai manfaat.
"Mereka (kelas menengah) tidak beli pakaian karena pendapatannya digunakan untuk jalan-jalan, menginap di hotel, atau pergi wisata ke Bali dan negara lain," kata Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Ari Kuncoro, Jakarta Pusat, Kamis 10 Agustus 2017.
Iman dan keglamoran
Forum Indonesia berDiskusi untuk Edukasi (IDE) di Sydney, Australia beberapa waktu lalu, juga tertarik mengkaji berkembangnya fenomena kelas menengah di Indonesia. Kelas ini mereka simpulkan sebagai pertanda masih adanya kesenjangan ekonomi dan sosial di tengah masyarakat.
Kecenderungan orang-orang di kelas ini memiliki tingkat penghasilan yang cukup baik, namun pola pikir yang dipakai masih membajak cara pandang kelas-kelas di bawahnya. Dengan ketimpangan ini, akhirnya mereka pun dilengkapi dengan sikap tidak peduli terhadap hak dan keberadaan orang lain.
"Dengan kata lain, secara ekonomi mereka sudah mulai membaik tetapi dalam bersikap, terutama kepekaan sosial masih sangat minim," kata salah satu pembicara, Salut Muhidin sebagaimana dikutip dari ABC Australia Plus.
Soal nasib, barangkali Andika dan Anniesa masih berada di tingkatan ini. Mengingat, rekam jejak keduanya amat drastis dari sisi peningkatan ekonomi.
Yang cukup bikin mengernyitkan dahi, mengapa Andika dan Anniesa lebih memilih bermain-main dengan wilayah agama. Umrah, bukan ibadah sepele yang bisa seenaknya dijadikan jalan meraup kekayaan.
Baca: [Fokus] Ironi Perjalanan Suci
Mestinya, agama menjadi penangkal diri agar terhindar dari gaya hidup berfoya-foya. Terlebih, menghadirkan dampak kerugian pada banyak orang.
Suroso, dalam Psikologi Islam (2011) mengatakan, salah satu penyebab meningkatnya gaya hidup hedonis adalah kemerosotan iman.
"Salah satu larangan agama adalah bersikap berlebih-lebihan atau bersikap boros," tulis dia.
Dengan mengutip teori Glock dan Stark, Suroso juga menulis, iman akan mengantarkan manusia berbuat kebaikan. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain.
Andika, dan Anniesa sudah cukup memberi tamsil. Tak perlu ada hujatan berlebih, percayakan saja kepada proses hukum yang sedang dijalani.
Namun yang patut dicatat bersama, perangkap gaya hidup hedonisme, sejatinya bisa menyeret siapa saja ke dalam jurang nestapa.
medcom.id, Jakarta: Kecil bahagia, muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga.
Istilah ini cukup masyhur di pengujung 1990-an. Puncak ketenarannya, bahkan masih membekas di punggung dan dada kaus lawas yang karib dengan konten pelesetan.
Joger, dari Bali dan Dagadu, Yogyakarta, salah satunya.
Jargon konyol itu, sama sekali tidak sedang menggambarkan kesempurnaan hidup. Sebaliknya, ia malah menjelma kritik. Fungsinya, kian kuat dengan banyaknya buku yang turut menggunakan pemeo tersebut untuk menyinggung kecenderungan buruk generasi baru di Indonesia.
Ambil contoh, karya yang ditulis para penggiat Sanggar Talenta pada 1999. Kalimat itu, bahkan dijadikan judul utama dan mengait-pautkannya dengan gaya hidup hedonisme.
"Disinyalir, virus
hedon ternyata erat melekat dalam kehidupan kami," tulis A.A Kunto dalam pengantar buku tersebut.
Mulanya, tak ada yang salah dengan hedonisme. Toh, nyaris semua manusia menargetkan kesenangan dalam kehidupan sehari-hari. Yang jadi perkara, ketika seseorang sudah tak peduli lagi ihwal bagaimana cara, sarana, dan akibat dari proses pencarian itu.
Singkat kata, sikap hedonisme bisa menihilkan pakem halal-haram dalam diri pelaku. Yang terpenting cuma satu, tercapainya kesenangan, atau terengkuhnya kenikmatan.
Belajar dari Andika-Anniesa
Nasib orang siapa tahu. Hari ini bergelimang harta, bisa jadi, besok raib entah kemana. Proses kejadiannya pun, bisa panjang-bisa seketika.
Yang paling anyar, serupa kasus yang menjerat pasangan pengusaha jasa penyedia layanan umrah Andika Surachman dan Anniesa Devitasari Hasibuan. Kedua pimpinan PT First Anugerah Karya Wisata alias First Travel itu, disangka menipu 58.682 orang sebab tak lekas menerbangkannya ke Tanah Suci sesuai janji. Taksiran kerugiannya, nyaris Rp900 milyar.
Kemunculan dan tamatnya riwayat First Travel, tak butuh waktu banyak. Cuma kurang dari sepuluh tahun saja sejak didirikan pada 2011 silam.
Tak sedikit yang menyebut, musabab utama kejatuhannya terletak pada gaya hidup yang
hedon sang pemilik. Andika pun Anniesa, seakan menyimpan dendam nasib lantaran sebelumnya hidup dalam keadaan susah.
Pasutri yang di masa-masa berat pernah berprofesi sebagai penjaga minimarket, jual pulsa telepon, berdagang burger, juga seprei itu, tiba-tiba terkesan kaya mendadak.
Melalui akun media sosialnya, kedua pasangan ini kerap tampil dengan busana yang glamor. Tak sesekali pula, mereka ambil pose dari tempat wisata favorit di berbagai belahan dunia.
Andika dan Anniesa, juga tak jarang memamerkan rumahnya yang selaksana istana. Dan benar, pamor kegelimangan harta itu merangkak naik seiring kegelisahan para korban yang kian menjadi.
Perjalanan itu berpuncak pada awal 2017. Geger First Travel dimulai ketika ratusan calon jemaah protes karena tak juga mendapat kabar keberangkatan yang jelas. Mereka yang mestinya bisa berhaji kecil pada akhir 2015 itu, masih banyak yang terkatung-katung hingga hari ini.
Kepala Pusat Penelitian dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin menduga, sebagian besar dana calon jemaah malah digunakan untuk membeli aset pribadi.
"Berdasarkan transaksi sejak 2011, sebagian untuk memberangkatkan umrah, sebagian ada yang diinvestasikan dan sebagian digunakan membeli aset pribadi," ungkap Kiagus, dalam
Metro Siang di
Metro TV, Senin 21 Agustus 2017.
Pengalaman Andika dan Anniesa, bisa jadi cuma satu contoh dari bahaya perangkap gaya hidup hedonisme yang
mengancam masyarakat Indonesia. Utamanya, kelas menengah.
Gejala ini, sebenarnya bisa diwaspadai secara dini. Ciri gaya
hedon menjangkit dalam diri di antaranya, cenderung berlaku boros namun minim nilai manfaat.
"Mereka (kelas menengah) tidak beli pakaian karena pendapatannya digunakan untuk jalan-jalan, menginap di hotel, atau pergi wisata ke Bali dan negara lain," kata Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Ari Kuncoro, Jakarta Pusat, Kamis 10 Agustus 2017.
Iman dan keglamoran
Forum Indonesia berDiskusi untuk Edukasi (IDE) di Sydney, Australia beberapa waktu lalu, juga tertarik mengkaji berkembangnya fenomena kelas menengah di Indonesia. Kelas ini mereka simpulkan sebagai pertanda masih adanya kesenjangan ekonomi dan sosial di tengah masyarakat.
Kecenderungan orang-orang di kelas ini memiliki tingkat penghasilan yang cukup baik, namun pola pikir yang dipakai masih membajak cara pandang kelas-kelas di bawahnya. Dengan ketimpangan ini, akhirnya mereka pun dilengkapi dengan sikap tidak peduli terhadap hak dan keberadaan orang lain.
"Dengan kata lain, secara ekonomi mereka sudah mulai membaik tetapi dalam bersikap, terutama kepekaan sosial masih sangat minim," kata salah satu pembicara, Salut Muhidin sebagaimana dikutip dari
ABC Australia Plus.
Soal nasib, barangkali Andika dan Anniesa masih berada di tingkatan ini. Mengingat, rekam jejak keduanya amat drastis dari sisi peningkatan ekonomi.
Yang cukup bikin mengernyitkan dahi, mengapa Andika dan Anniesa lebih memilih bermain-main dengan wilayah agama. Umrah, bukan ibadah sepele yang bisa seenaknya dijadikan jalan meraup kekayaan.
Baca: [Fokus] Ironi Perjalanan Suci
Mestinya, agama menjadi penangkal diri agar terhindar dari gaya hidup berfoya-foya. Terlebih, menghadirkan dampak kerugian pada banyak orang.
Suroso, dalam
Psikologi Islam (2011) mengatakan, salah satu penyebab meningkatnya gaya hidup hedonis adalah kemerosotan iman.
"Salah satu larangan agama adalah bersikap berlebih-lebihan atau bersikap boros," tulis dia.
Dengan mengutip teori Glock dan Stark, Suroso juga menulis, iman akan mengantarkan manusia berbuat kebaikan. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain.
Andika, dan Anniesa sudah cukup memberi tamsil. Tak perlu ada hujatan berlebih, percayakan saja kepada proses hukum yang sedang dijalani.
Namun yang patut dicatat bersama, perangkap gaya hidup hedonisme, sejatinya bisa menyeret siapa saja ke dalam jurang nestapa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SBH)