Danau buatan di Rawa Badak kering - Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto.
Danau buatan di Rawa Badak kering - Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto.

Pemerintah Bakal Bikin Hujan Buatan Antisipasi Kekeringan

Nasional kekeringan kemarau dan kekeringan
Damar Iradat • 15 Juli 2019 18:32
Jakarta: Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bakal membuat hujan buatan. Ini untuk mengantisipasi dampak kekeringan musim kemarau berkepanjangan yang melanda sejumlah daerah di Indonesia.
 
Kepala BNPB Letjen Doni Monardo mengatakan, pihaknya telah mendapatkan beberapa permohonan dari sejumlah kepala daerah untuk membuat hujan buatan. Presiden Joko Widodo sudah meminta BNPB menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan bantuan hujan buatan.
 
"Oleh karenanya, BNPB tentu tidak bisa sendirian, perlu bekerja sama dengan beberapa lembaga, khususnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan juga markas besar TNI," kata Doni di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 15 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Doni mengungkapkan tak semua daerah memungkinkan dilaksanakan teknologi modifikasi cuaca. Ini tergantung keadaan awan. Apabila awan masih tersedia sangat mungkin hujan buatan dilakukan.
 
Dalam Ratas tadi, Doni juga melaporkan ke Jokowi perlunya penyiapan bibit pohon agar masyarakat bisa menjaga lingkungan dan tersedia sumber air. Namun, ini untuk antisipasi jangka menengah dan panjang.
 
(Baca juga: Jokowi Minta Suplai Air Bersih dan Irigasi Terjaga)
 
"Dari beberapa pengalaman yang ada, jenis pohon tertentu itu memiliki kemampuan menyimpan air, antara lain adalah pohon sukun, termasuk juga pohon aren," jelasnya.
 
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam kesempatan yang sama mengatakan, pihaknya memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus. Sementara, dampak musim kemarau berupa kekeringan bisa terjadi sampai September untuk wilayah di sebelah selatan khatulistiwa.
 
Kendati demikian, menurut Rita, seiring berjalannya waktu pada Oktober hingga Desember musim kemarau bukan berarti telah usai. Musim kemarau hanya akan bergerak ke arah utara. 
 
"Jadi tidak serempak. Cuma yang paling luas itu di bulan Agustus-September, paling luas puncak musim kemaraunya itu di bulan Agustus," ungkap Rita.
 
Daerah-daerah yang terdampak, kata dia, mulai dari Sumatera bagian Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua bagian selatan. Puncak musim kemarau di wilayah itu paling terasa di bulan Agustus.
 
Oleh karena itu, Rita menambahkan, hal tersebut perlu diantisipasi dari sekarang. Jika tidak, ketersediaan air akan mengalami defisit. 
 
"Terutama di sepanjang Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Timur, sampai Papua itu akan defisit air juga, kering," tandas dia. 
 

 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif