Mengais Besi Demi Popok Anak
Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Hasanuddin Z Abidin--Medcom.id/M Rodhi Aulia.
Palu: Sejumlah korban terdampak likuifaksi kehilangan pekerjaan. Alhasil sama sekali tidak ada pemasukan.

Alfian, salah satu warga Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, misalnya. Dalam sebulan terakhir, ia banyak menghabiskan waktu berpanas-panas mengais besi dari reruntuhan rumahnya.

"Rumah saya diseret hingga 2 kilometer," kata Alfian kepada Medcom.id yang tengah melihat kondisi di Jalan Gowalise, Balaroa, Palu, Kamis, 1 November 2018.


Diakui Alfian, memang makanan dan logistik lainnya, masih terasa cukup. Namun, untuk kebutuhan anak dianggap tidak memadai. "Cuma popok anak-anak kadang kurang," ujarnya.

Dalam sehari, Alfian bisa mengumpulkan besi hingga 5 kilogram. Besi-besi yang ia dapat dari rumahnya sendiri itu, dijual ke penadah. "Per kilogramnya, Rp1.500," ujarnya.

Kawasan likuifaksi, Jalan Gowalise, Balaroa, Palu. Medcom.id/M Rodhi Aulia.

Riyadi, korban likuifkasi di Balaroa, juga melakukan hal yang sama. Ia mencari besi dan puing-puing kemudian dijual ke penadah.

"Mereka orang luar. Bukan warga sini (penadahnya). Dan itu biasanya dibawa pakai kontainer," kata Riyadi di lokasi yang sama.

Baca: Melihat Dampak Sesar Palu-Koro

Alfian dan Riyadi dulunya membuka usaha bengkel. Tapi pascalikuifaksi yang menelan rumah dan bengkelnya, tak ada pekerjaan selain mengais besi.

Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Hasanuddin Z Abidin mengunjungi lokasi likuifaksi. Ia berbincang dengan warga sekitar.

Kunjungan Hasan ini dalam rangka persiapan dukungan penyediaan peta dasar untuk wilayah terdampak. Salah satunya peta dasar dimaksudkan untuk relokasi. "Sepertinya wilayah likuifaksi ini tidak bisa lagi dijadikan permukiman," katanya.



(YDH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id